Wajibnya Mendatangi Undangan Jika Diundang | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Wajibnya Mendatangi Undangan Jika Diundang

Setiap muslim memiliki hak bagi saudaranya yang lain. Hak sesama muslim ini salah satunya terdapat dalam satu hadist yang di sabdakan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, (yang artinya),

”Hak muslim pada muslim yang lain ada enam yaitu,”(1) Apabila engkau bertemu, berilah salam padanya, (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya, (3) Apabila engkau dimintai nasehat, berilah nasehat padanya, (4) Apabila dia bersin lalu mengucapkan ’alhamdulillah’, doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’), (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia, dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim).

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menganjurkan kepada kita untuk menunaikan hak saudara muslim kita, salah satunya adalah memenuhi undangan. Dan mayoritas ulama berpendapat bahwa undangan yang wajib dipenuhi hanya undangan walimahan atau resepsi pernikahan. Sedangkan undangan selain acara tersebut hanya dianjurkan atau tidak wajibkan untuk dipenuhi (Syarh Riyadhus Sholihin).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  (yang artinya), Jika salah seorang di antara kalian diundang walimah, maka hadirilah. (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini digunakan kata perintah dan hukum asal kata perintah itu wajib.

Abu Hurairah mengatakan, Sejelek-jelek makanan adalah makanan pada walimah yang di mana diundang orang-orang kaya saja dan tidak diundang orang-orang miskin. Siapa yang meninggalkan undangan tersebut, maka ia telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun bila dalam acara yang kita diundang didalamnya tersebut terdapat kemungkaran dan kita tidak mampu untuk merubahnya, seperti acara minum- minuman keras bersama, berpesta pota laki-laki dan wanita yang berbaur jadi satu, maka tidak wajib  untuk memenuhi undangan semacam ini. Karena menghadiri acara semacam ini, dapat dikatakan serupa dengan pelaku kemungkaran.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ”Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (An Nisa’: 140).

Apabila yang mengundang kita adalah orang selain muslim, maka Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah berkata, ”Apabila yang mengundang adalah orang kafir, tidak boleh memenuhi undangan tersebut, bahkan tidak disyari’atkan, kecuali apabila terdapat manfaat di dalamnya. Seperti untuk mengajaknya masuk Islam atau dalam rangka perdamaian. Hal seperti ini tidaklah mengapa karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memenuhi undangan orang Yahudi yang mengundangnya di Madinah (Syarh Riyadhus Sholihin).

Wallahu’alam.



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top