Ustadz Juga Manusia | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Ustadz Juga Manusia

348 kali dilihat

Asli, gue pribadi penasaran tentang kenapa sih kalau ada seorang ustadz atau ustadzah yang bermasalah, wuh bisa ramai dunia. Berbondong-bondong berita datang dan pergi, dari mulai yang positif, sampai yang paling nggak bisa diterima sama telinga. Seakan tidak ada maaf bagi mereka, seakan mereka adalah orang yang paling berdosa dan paling nggak mungkin dapat kesempatan memperbaiki diri setelahnya.

Gaes, bukankah di dunia ini nggak mungkin ada yang sempurna? Termasuk juga mereka. Nabi Muhammad yang sudah dijamin surga aja, dulu masih pernah ditegur sama Allah langsung karena sebuah kekhilafan.  

Ternyata, bukan pelaku dari sebuah kesalahan itu yang salah. Melainkan pola pikir dan harapan yang kita bangun sendiri dalam diri kita yang kurang pas. Kita selalu berharap bahwa orang yang menyampaikan ilmu itu adalah kudu yang sempurna, dan atau nggak punya cela. Padahal yang begitu nggak akan mungkin terjadi sampai dunia berakhir nanti. Satu-satunya yang Maha Sempurna adalah Allah Subhanahu Wata’ala.  

Biarkanlah saja mereka dengan masalahnya. Kalau kita bisa bantu, ya bantu. Kalau nggak, cukuplah mendoakannya, atau tutupilah aibnya. Jangan sebagai penonton kita malah sibuk mengomentari mereka, yang mana komentar itu sebenarnya nggak guna. Hallo, kita sendiri ini apa kabar? Mungkin kalau kita di posisi mereka, belum tentu kita bisa sekuat mereka. Dan mungkin juga kesalahan yang mereka buat ternyata lebih kecil dari deretan dosa-dosa kita. Siapa tahu, kan?

Kawan, sebuah situasi nggak akan terjadi kalau Allah nggak menghendaki. Situasi yang dialami oleh para ustadz atau ustadzah itu, bukan cuma jadi ujian buat mereka, tapi juga kita loh. Allah pengen lihat gimana sikap kita melihat saudara kita yang sedang bermasalah. Kasih bantuankah buat dia walaupun hanya sekedar doa, atau kita malah sibuk ngobrolin, menggosip atau nyinyirin dia dengan segala permasalahannya? Allah pengen benar-benar lihat semua itu.

Hikmah selanjutnya adalah akhirnya kitapun bisa tahu kualitas diri kita ini seperti apa. Saat orang yang kita jadikan panutan ternyata kita temukan kekurangan di diri dia, sikap apa yang akan kita pilih. Mendoakan diakah, membantunya kah, menutupi kekurangannya kah atau malah memaki dibelakangnya dengan menyebut “munafik, abal-abal,  topeng, bla...bla...bla”.

Jadi kawan, sekiranya kita menemukan kekurangan yang ada pada diri orang yang kita anggap sebagai panutan, cukuplah kita membuatnya sebagai pelajaran. Karena kita lebih butuh buat dinilai Allah baik, dan diakui oleh diri kita sendiri sebagai orang yang tetap bersikap baik dan luar biasa, dari pada kebanyakan orang biasa diluaran sana yang hanya akan sibuk memberikan komentar, nyinyiran, atau bahkan mencaci maki.

 

(NayMa)



RELATED ARTICLE