Untukmu Yang Tengah Mendiamkanku, Tak Perlu Menjauh Dariku, Aku Tahu Cara Melangkah Mundur. | DiaryHijaber.com

Writer : Nanda Pipit N Editor : Nanda Pipit N

Untukmu Yang Tengah Mendiamkanku, Tak Perlu Menjauh Dariku, Aku Tahu Cara Melangkah Mundur.

Mengenalmu, aku menemukan kesempurnaan dalam dirimu yang buatku nyaman. Tak terasa, ratusan hari kulalui dengan indah, tanpa seharipun terlewati untuk sekedar bertanya “apa kabar?” Taukah kamu, aku serasa sedang bermimpi  bisa mengenalmu, pria sempurna yang menggenapkan segala kekuranganku. Bersamamu berbagi canda, tawa, diskusi banyak hal. Kamu selayaknya dosen semua mata kuliah untukku.

Meski beberapa orang terdekat mengatakan hubungan ini layaknya “mission impossible” karena banyaknya perbedaan, juga jarak yang membentang namun aku begitu yakin padamu. Ikatan batin kita begitu kuat hingga banyak perbedaan bisa kita satukan.

“Apakah ini pertanda bahwa kita berjodoh? Aku nyaman bersamamu, bahkan dalam ketidak jelasan hubungan ini. Apakah kita terjebak dalam friendzone atau sebenarnya saling memendam perasaan?”

Entahlah. Sampai saat inipun aku tak bisa mendefinisikan hubungan ini. Yang pasti ada rasa sayang meski tak terkata, rasa cemburu meski tak terucap, bahagia, curiga, selayaknya pasangan kekasih. Yang berbeda adalah tak pernah ada kata kata jadian keluar dari mulut kita. Semua mengalir begitu saja.

Kadang ingin kutanyakan perasaanmu yang sesungguhnya. Namun aku takut semua berubah. Rasa takut kehilangan apa yang telah susah payah kubangun bersamamu. Meski aku sadar, pohon waktu semakin tinggi, bukan saatnya lagi berdiam dalam hubungan yang abu abu. Namun sekali lagi, aku takut menanyakan ini padamu. Aku membiarkan semua pertanyaan dalam benakku menguap begitu saja.

Aku mengikuti setiap irama yang kau ciptakan dalam hubungan ini. Jujur kamu sosok yang kaku di mata wanita. Kau bahkan ceritakan padaku, dirimu bukan sosok romantis seperti dalam novel yang sering kita baca. Bukan cowok yang bisa setiap saat menanyakan sedang apa, dimana? Atau buru buru menelfon saat kangen. Kamu cenderung diam dan cuek. Namun aku selalu berusaha memahamimu, selama kita bisa berkomunikasi dengan baik, segala perbedaan, jarak nyaris tak terasa. Aku paham caramu membalas pesan kadang lama, paham betapa cueknya kamu dengan orang  orang yang dijodohkan denganmu atau tergila gila padamu. Aku bisa menjadi sosok yang kamu percaya untuk berbagi saja aku bahagia.

Namun semuanya berubah ketika entah untuk alasan apa tiba tiba kamu mendiamkanku. Tak sekalipun kamu balas chatku, telfon, bahkan email. Semua cara telah aku coba tuk menghubungimu. Meskipun gadgetmu aktif, tetap  saja belum kamu baca pesanku hingga saat ini, Dulu pernah kamu bersikap seperti ini. Namun pada akhirnya, kamu membalas pesanku dan berkata “kamu lulus ujian dariku…”

Namun entah kenapa kali ini berbeda. Kau terlalu lama diam. Jika dulu aku bisa melewati fase fase yang kau anggap ujian bagiku, apakah kali ini aku sanggup? Jika kau mendiamkanku terlalu lama. apa yakin ini hanya sebuah ujian? Jika hari telah berganti bulan, dan kau masih tetap dengan diammu, tanpa sekalipun merespon pesanku atau menjawab telfonku, apakah aku sanggup melaluinya?

Aku berusaha semampuku tuk memendam semua kecurigaan padamu. Aku berusaha seolah tak terjadi apapun. Tetap menyapamu, menanyakan kabarmu, mengingatkan agendamu, mengirimkan video video lucu untuk menghiburmu. Tak sedikitpun berkurang perhatianku padamu, masih sama seperti dulu. Namun sedikitpun kau tak bergeming. Hingga berbagai tanya muncul dalam benakku..”apa salahku?”

Aku mengecek kata demi kata terakhir kita berkirim pesan. Semua normal, tak ada keganjilan. Yang ganjil justru sikapmu padaku saat ini. Sampai kapan kau akan menghukumku dengan diam mu? Seandainya jarak hanya sejengkal, mungkin aku sudah ada dihadapanmu, mencoba membicarakan segala keganjilan ini agar tak lagi menyesakkan dadaku.

Lama aku berfikir. Hingga nyaris berada di ujung kesabaranku. Baiklah..jika berbagai usahaku tak juga menggerakkan hatimu, berarti memang aku harus pasrah. Sembari memohon pada yang diatas untuk memberikan jalan terbaik bagiku, bagimu, bagi kita. Ada satu status teman yang membuatku tersentak.

“cinta itu diperlukan usaha dari kedua belah pihak. Jika hanya kamu yang berusaha, berarti dia tidak mencintaimu”

Untukmu yang tengah mendiamkanku, jika memang ini sinyalmu untuk menjauhiku, baiklah..Tak perlu menjauh dariku, aku tahu cara melangkah mundur. Dan seandainya ini ujian darimu tuk meyakinkan dirimu tentangku, sampai kapan ujian ini berakhir? Apakah setelah ini aku bisa naik kelas dari status abu abu ini menjadi milikmu seutuhnya? Only God knows.



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top