Ummu Habibah, Sosok Wanita yang Tegar | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Ummu Habibah, Sosok Wanita yang Tegar

399 kali dilihat

Namanya adalah Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan. Ketika telah datang sebuah hidayah kepadanya, dia menyambutnya dengan bahagia untuk memilih agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan lalu berani meninggalkan sesembahan ayah dan kaum musyrikin lainnya.

Abu Sufyan, ayah Ummu Habibah, lalu mengerahkan segala cara untuk membawa putrinya kembali kepada ajaran nenek moyangnya. Namun akhirnya usaha tersebut tidak membuahkan hasil sama sekali. Ummu Habibah radhiallahu’anha tidak bergeming sedikitpun dari prinsipnya. Keimanannya tidak tergoyahkan sama sekali, walaupun harus menghadapi kemarahan dari sang ayah.

Abu Sufyan bersama kaum musyrikin akhirnya mulai melancarkan gangguan, siksaan, dan penindasan kepada kaum muslimin. Hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan izin untuk berhijrah menuju Habasyah. Ummu Habibah radhiallahu’anha yang saat itu didampingi oleh sang suami, akhirnya ikut pula masuk dalam barisan kaum muslimin yang hijrah dari Mekah menuju Habasyah tersebut.

Setelah itu, ternyata cobaan tidak hanya berhenti disana saja bagi Ummu Habibah. Suatu malam ketika ia telah tidur lelap, ia lalu bermimpi tentang suaminya, Ubaidaullah bin Jahsy, yang berubah dalam keadaan dan rupa yang amat buruk. Dan benar saja, ternyata tidak lama mimpi itu menjadi kenyataan. Hal ini karena suami Ummu Habibah keluar dari Islam dan menjadi seorang Nasrani.

Maha suci Allah Subhanahu wa Ta’ala yang membolak-balikkan hati hamba-Nya. Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang telah berfirman dalam kitab-Nya, Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashahs: 56).

Cobaan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuk Ummu Habibah tersebut tetap membuatnya tegar hidup dalam iman Islam. Walaupun saat itu Ummu Habibah hanya mempunyai tiga pilihan saja, menjalani hidup bersama sang suami dengan melepaskan keislamannya seraya menyandang kehinaan di dunia dan di akhirat, mempertahankan prinsipnya dengan tetap tinggal di Habasyah dalam keadaan terasing tanpa kerabat dan keluarga, atau memilih kembali ke Mekah menjadi putri bangsawan di bawah naungan sang ayah, tetapi hidup dalam keadaan terjajah agamanya.

Akhirnya Ummu Habibah radhiallahu’anha bertekad untuk tetap tinggal di Habasyah menjalani hidup dalam keterasingan demi mempertahankan agamanya, dan berharap suatu saat nanti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kemudahan bagi urusannya, dan mendatangkan kelapangan dari sisi-Nya.

Waktupun berlalu dan Allah adalah Dzat yang tidak pernah menyelisihi janji-Nya. Kelapangan itu akhirnya datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Pada suatu hari datanglah budak wanita utusan Najasy (penguasa Habasyah) membawa kabar yang tidak terduga. Budak wanita itu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengirim surat kepada Raja Najasy yang di dalamnya berisi keinginan beliau untuk melamar Ummu Habibah radhiallahu’anha, sekaligus menunjuk Najasy sebagai wakil beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanakan akad nikah di Habasyah. Hal ini  membuat perasaan Ummu Habibah radhiallahu’anha begitu gembira dan bersyukur kepada Allah.

Akad pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ummu Habibah pun terlaksana. Dan Ummu Habibah radhiallahu’anha, senantiasa mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga beliau wafat. Dan pada tahun 44 Hijriah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak memanggil ruh wanita mulia ini kembali ke sisi-Nya.

Inilah keindahan kisah hidup seorang wanita yang begitu tegar mempertahankan iman Islamnya.  Keteguhan dan ketabahannya menjadi pelajaran besar bagi siapapun kita sekarang. Maka benarlah apa yang telah Allah firmankan di dalam Al Quran, (yang artinya),

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (begitu saja) menyatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3).



RELATED ARTICLE