DiaryHijaber
Tetanggaku, Sahabatku | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna. P. Sari Editor : BL

Tetanggaku, Sahabatku

Tetangga adalah orang terdekat kita. Mereka adalah orang lain tapi yang care alias peduli sama kita, kalo kita lagi kena musibah. Kadang kita bisa dekat dengannya bahkan dari pada saudara kita sendiri, lho. Karena kalau kita lagi susah, orang yang pertama kita panggil dan atau lari nolongin kita adalah tetangga terdekat kita. Apalagi kalau kita ada di desa. Hidup yang masih lekat banget dengan semangat gotong royong, membuat kita nggak bisa jauh- jauh dari tetangga. Walaupun tanpa diminta sekalipun, kadang mereka sendiri yang ingin menolong kita.

 

Karena itu nggak heran bila Allah Subhanahu Wata’ala berfirman kepada kita, “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An Nisa: 36).

 

Rasulullah shallallahu‘alahi wassalam juga berpesan agar kita selalu baik pada tetangga kita. Bahkan beliau menggandengkan iman kepada Allah dan hari Akhir, dengan sikap baik bertetangga. Ini menunjukkan kalau mengganggu tetangga kita itu nilainya besar dihadapan Allah Ta’ala. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya” (HR. Bukhari Muslim)

 

Beliau shallallahu‘alaihi wassallam juga bersabda, (Yang artinya), “Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar memuliakan (berbuat baik) kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira seseorang akan menjadi ahli waris tetangganya” (HR. Al Bukhari)

 

Tetangga juga bisa saja lho, jadi sahabat kita. Walaupun mungkin dua orang yang berbeda pasti nggak akan pernah bisa seratus persen sama pikirannya. Dan nggak mungkin juga dua orang yang berbeda akan seratus persen lepas dari sebuah konflik, namun kalau dua orang tersebut menyatukan satu visi dan misi yaitu hidup dalam rangka beribadah kepada Allah, dan hanya mencari ridho Allah, maka semua Inshaallah akan berakhir dengan baik- baik saja. Karena dengan begitu, kita akan sama- sama memberikan pengertian dan mengesampingkan ego sebagai seorang manusia, serta menganggap masalah besar itu kecil, dan masalah kecil itu nggak ada. Penyakit hati seperti iri, dengki, dan lain- lain, juga akan lebih gampang untuk diatasi bahkan juga dihilangkan.

 

Tapi kalaupun memang ternyata nggak bisa sama prinsip atau pikiran kita, yawdah jangan dipaksain juga buat selalu sama. Apalagi kalo judulnya kita sudah berbeda keyakinan dengan tetangga kita. Ya pasti nggak mungkin bisa sama. Tapi yang terpenting adalah kita selalu berbuat baik kepada tetangga kita tersebut. Seperti yang dicontohkan oleh Hasan Al Basri, dimana beliau waktu itu memiliki tetangga yang berbeda keyakinan dengan beliau. Selama 10 tahun lebih lamanya beliau melihat sendiri cairan najis kamar mandi tetangganya itu menimpa ruangannya. Namun beliau sama sekali tidak pernah memberi tahu apalagi marah- marah tentang kejadian yang menimpa rumahnya.

 

Sampai akhirnya beliau sakit, dan tetangganya itu menjenguk beliau. Barulah si tetangga tadi melihat sendiri apa yang terjadi di rumah Hasan al Basri. Beliau berkata, “Memuliakan tetangga adalah hal yang wajib. Nabi kami mengajaran, ‘Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangga’. Dan anda adalah tetangga saya,”. Karena kemuliaan akhlak itulah akhirnya si tetangga tersebut akhirnya malah mengucapkan dua kalimat syahadat atau masuk Islam.

 

Karena itulah kawan, mari kita bersama- sama memohon kepada Allah Ta’ala, Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kepada kita hidayah biar bisa berbuat dan berakhlak yang penuh kebaikan dalam hal bertetangga. Selain juga agar kita termasuk orang- orang yang dicintai oleh Allah, seperti yang pernah disampaikan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam (yang artinya): “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah, … Disebutkan diantaranya: “Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah boleh kematian atau keberangkatannya” (HR. Ahmad).

 

 

 



RELATED ARTICLE