Tentang Arti Hadist Dan Penggolongannya | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna. P. Sari Editor : BL

Tentang Arti Hadist Dan Penggolongannya

(DiaryHijaber.com)- Kita pasti sering mendengar atau meligat pembahasan atau penulisan tentang hadits shahih, hasan dan dha’if. Namun apa sebenarnya arti atau maksud dari hadits dengan predikat-predikat tersebut ?

 

 A. Hadits Shahih

Terkait dengan hal ini, Imam Syafi’i memberikan penjelasan yaitu:

  1. Apabila hadist tersebut diriwayatkan oleh para perawi yang dapat dipercaya pengamalan agamanya, dikenal sebagai orang yang jujur, memahami serta mengetahui perubahan arti hadits bila terjadi perubahan lafadnya. Selain itu ia juga terpelihara hafalannya bila meriwayatkan hadits secara lafad, bunyi hadits yang ia riwayatkan sama dengan hadits yang diriwayatkan orang lain dan terlepas dari penyembunyian cacat.
  2. Rangkaian riwayatnya bersambung sampai kepada Nabi SAW atau dapat juga tidak sampai kepada Nabi. Bila dilihat dari segi persyaratan shahih yang terpenuhi, maka hadist shohih dapat dibagi menjadi tujuh tingkatan yaitu: 
  1. Hadits yang disepakati oleh bukhari dan muslim (muttafaq ‘alaih),
  2. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori saja,
  3. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim saja,
  4. Hadits yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan AL-Bukhari dan Muslim,
  5. Hadits yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Al-Bukhari saja,
  6. Hadits yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Muslim saja,
  7. Hadits yang dinilai shahih menurut ilama hadits selain Al-Bukhari dan Muslim dan tidak mengikuti persyratan keduanya, seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan lain-lain.

 

B. Hadist Hasan

Hadist Hasan menurut Definisi Tirmidzi adalah semua hadits yang diriwayatkan, dimana dalam sanadnya tidak ada yang dituduh berdusta, serta tidak ada kejangalan. Sedangkan Ibnu Hajar menjelaskan apabila hadits yang diriwayatkan oleh yang adil, sempurna hafalannya, bersambung sanadnya, tidak cacat, dan tidak janggal maka dia adalah hadits shahih, lalu jika ringan hafalannya maka dia adalah hadits hasan.

 

Kriteria hadits hasan sama dengan kriteria hadits shahih. Perbedaannya hanya terletak pada sisi kekuatan hafalan perawinya. Hadits hasan, meskipun derajatnya dibawah hadits shahih adalah hadits yang dapat diterima dan dipergunakan sebagai dalil atau hujjah dalam menetapkan suatu hukum atau dalam beramal.

 

 C. Hadist Dhoif

Hadits dhaif berarti hadits yang lemah. Para ulama menduga hadits ini tidak berasal dari Rasulullah SAW. Dan menurut mereka batasan bagi hadits dhaif yaitu : “Hadits dhaif ialah hadits yang tidak memuat sifat-sifat hadits shahih, dan tidak pula menghimpun sifat-sifat hadits hasan”.

 

Sikap ulama terhadap hadits dhaif itu sangat beragam. Setidaknya ada tiga kelompok besar dengan pandangan dan hujjah mereka masing-masing.

  1. Menolak dengan tegas hadist dhoif. Mereka yang termasuk dalam kelompok ini sama sekali tidak mau memakai hadist dhoif untuk apa pun juga. Baik masalah keutamaan, kisah-kisah, nasehat atau peringatan. Apalagi kalau sampai masalah hukum dan aqidah.
  2. Menerima Semua Hadits Dhaif. Ada juga kalangan ulama yang tetap menerima semua hadits dhaif, namun asal bukan hadits palsu. Bagi mereka, sebuah hadits, tetap saja lebih tinggi derajatnya dari akal manusia dan logika.
  3. Kelompok Menengah. Kelompok ini masih mau menerima sebagian dari hadits yang terbilang dhaif dengan syarat-syarat tertentu, salah satunya adalah Hadits dhaif itu tidak terlalu parah kedhaifanya. Apabila perawinya sampai ke tingkat pendusta, atau tertuduh sebagai pendusta, atau sangat rancu hafalannya, maka tidak bisa diterima. Selain itu Hadits itu hanya seputar masalah nasehat, kisah tauladan, atau anjuran amal tambahan saja. Dan bukan tentang masalah aqidah, sifat Allah atau masalah hukum

 


Artikel Terkait Lainnya..
Berziarah Mengingatkan Kematian

RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top