DiaryHijaber
Sistim Kemerdekaan Anti Kekerasan di Islam | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Sistim Kemerdekaan Anti Kekerasan di Islam

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang dimuliakan oleh Allah, serta dilebihkan dari makhluk yang lain. Dalam kehidupannya, manusia juga diberikan hak dan kewajiban yang kesemuanya telah ditentukan oleh Allah.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Qs. Al-Isra : 70).

Salah satu hak yang melekat pada diri manusia adalah mendapatkan kemerdekaan. Dan kemerdekaan yang dimaksud adalah meliputi jaminan atas hak-hak jasmani dan rohani, seperti kemerdekaan hidup, kemerdekaan agama, kemerdekaan harta, kemerdekaan tempat tinggal, kemerdekaan mengemukakan pendapat dan sebagainya. Hal ini selaras dengan aturan yang termuat dalam hukum Islam.

Islam memiliki aturan untuk memberikan hak merdeka untuk hidup karena nyawa merupakan karunia Allah SWT yang paling mahal yang diberikan kepada manusia. Karena itulah Islam memberi aturan yang keras berupa larangan membunuh, baik bunuh diri (QS. An-Nisa : 29) atau membunuh orang lain (QS. Al-Isra : 33). Bagi yang melanggar larangan tersebut, hukum qishash-lah yang berlaku yaitu hukum pembalasan yang setimpal sebagai jaminan untuk menjaga kemuliaan nyawa manusia. Namun semuanya itu tentu harus dijalankan menurut aturan hukum, yaitu memakai putusan hakim.

Islam juga memberikan kemerdekaan dan hak azasi manusia yang sangat penting, yaitu dalam hal memilih agama atau kepercayaan. Allah Subhanahu wata'ala berfirman, (yang artinya) :

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 25).

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus : 99).

Islam memang memerintahkan agar umatnya melaksanakan dakwah namun TIDAK BOLEH disertai dengan kekerasan, atau paksaan. Kewajiban seorang muslim hanya menyampaikan saja. Adapun kesadaran untuk menerima atau tidak tergantung ada dan tidaknya hidayah dari Allah SWT untuk orang tersebut. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, (yang artinya) :

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 125).

Islam juga memberikan aturan yang berat bagi setiap pencuri yang memenuhi syarat-syarat potong tangan. Hal ini tidak lain untuk melindungi kemerdekaan memiliki harta serta terwujudnya keselamatan dari pemilik harta tereebut. Allah telah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 188, (yang artinya) :

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”

Selanjutnya, diatur pula kemerdekaan mengemukakan pendapat dalam Islam. Namun kebebasan berpendapat dalam islam itu bukan berarti semua hal dapat diperdebatkan. Tetapi sesuatu hukum yang sudah ditetapkan Allah tidak diperbolehkan untuk diperdebatkan, divoting dan diputuskan hasil akhirnya dengan suara terbanyak.

 Mengemukakan pendapat, serta bermusyawarah hanya boleh untuk urusan yang mubah. Hal ini berdasar dalil Al-Quran, ”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah : 49).

Dalam Islam juga dikenal konsep kemerdekaan bertempat tinggal dan menjadikan tempat tinggalnya itu sebagai area pribadinya dimana orang lain tidak boleh mengganggunya.

Allah Ta'ala berfirman, ”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sehingga kalian minta ijin dan mengucapkan salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian agar kalian menjadi ingat. Apabila kalian tidak mendapatkan satu orang pun didalam rumah itu, maka janganlah kalian memasukinya sampai kalian diijinkan. Dan apabila dikatakan kepada kalian,’Kembalilah!’ maka kembalilah kalian. Yang demikian itu lebih suci bagi kalian. Dan Allah Maha Mengetahui atas segala yang kalian perbuat.” (QS. Al-Nur: 27-28).

Demikian sedikit uraian tentang kemerdekaan dalam Islam. Semoga bermanfaat.



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top