Seberapa Besar Kadar Islam dalam Hatimu? | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Seberapa Besar Kadar Islam dalam Hatimu?

Allah adalah zat yang maha mencintai kita. Tidak ada satupun yang bisa menyamai kasih sayangNya kepada kita. Dalam taat dan atau lalainya kita, dia tetap menjadi yang Maha Pengasih dan penyayang bagi kita. Dia memberi nikmat kepada kita, sampai–sampai kita tidak akan sanggup bila menghitung nikmat tersebut. Dia mengabulkan doa pada siapapun yang memohon, dan memaafkan siapapun hambaNya yang bertaubat.

Hijabers, lalu apakah kita juga mencintai Allah? Seberapa besar cinta kita kepadaNya?

Cinta yang kita berikan kepadaNya, memang tidak akan mungkin bisa menyamai kasih sayangNya kepada kita. Kita ini hanya hamba, yang banyak salah, lalai dan lupa. Namun dalam keadaan itu, tetap Allah menjadi yang Maha Pengasih dan penyayang bagi kita. Karena itu, sudah selayaknya kita mengabdi dan memberikan cinta tertinggi kita kepadaNya.

Dan jika kita mencintai Allah, maka hati dan seluruh perangkat fisik kita akan tunduk pada segala sesuatu yang diridhai olehNya atau melakukan kehidupan kita seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Katakanlah (Muhammad) jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran : 31).

Jika kita mencintai Allah, maka Allah menjadi telinga kita, menjadi mata kita, telinga kita, dan tangan serta kaki kita. Dialah yang banyak kita sebut, kita ingat, dan kita pikirkan.

Jika kita mencintai Allah, maka kita tidak akan mencintai hal apapun di dunia ini melebihi kecintaan kita kepada Allah, sehingga membuat Allah cemburu. Katakanlah Jika bapak-bapak mu, anak-anak mu, saudara-saudara mu, istri-istri mu, keluarga mu, harta kekayaan yang engkau usahakan, perdagangan yang engkau khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempa tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rosul-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya’ dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24).

Jika kita mencintai Allah, maka cinta itu tidak akan terbagi, yang berarti ketundukan dan ibadah kita kepada Allah.

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 165).

Adapun cinta yang tidak mengandung unsur ketundukan dan perendahan diri, seperti cinta keluarga, anak-anak, orang tua, sahabat, cinta kepada lawan jenis, harta dan dunia, serta cinta pada hal hal lain yang merupakan fitrah manusia,  maka tidak berdosa jika cinta itu ada dalam hati kita. Dengan catatan, semua cinta itu tidak boleh sampai melampaui cinta kita kepada Allah. Cinta itu tidak boleh sampai membuat kita meninggalkan kewajiban kita.

Jika cinta kepada Allah itu ada, maka kita juga akan mencintai orang-orang yang mencintai Allah dikalangan orang-orang yang beriman, membangun persaudaraan yang kokoh diatas cinta kepada Allah, saling menyayangi, mengayomi dan membantu satu sama lain. “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Maa`idah: 54).

Lalu sebuah pertanyaan muncul bagi kita Hijabers, apakah kita juga mencintai Allah sedemikian rupa? Apakah kualitas cinta kita kepada Allah juga tergambar sedemikian rupa? Jawabannya kembali ke diri kita masing-masing.



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top