DiaryHijaber
Sahabat Tuh Nggak Gitu! | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Sahabat Tuh Nggak Gitu!

Manusia emang nggak bisa hidup sendiri. Mereka butuh orang lain untuk saling membantu dan berbagi. Selain itu, manusia juga punya kebutuhan untuk disayang, dipahami dan dimengerti. Dan mereka lalu menamakan orang yang dekat dengan mereka itu sebagai “sahabat”. Harapan mereka dengan memiliki seorang sahabat adalah mereka bisa mendapatkan kebahagiaan yang lebih banyak dalam hidup mereka.

Tapi apakah selalunya akan seperti itu, kawan? Ternyata nggak juga. Terutama kalau kita salah memilih seseorang yang kita sebut sahabat itu. Dan sayangnya kesalahan itu nggak akan terjadi secara simple, loh. Karena hal ini menyangkut orang terdekat kita, yang kita percayai, dan yang kita yakini bakal bisa buat kita bahagia.

Contoh aja, kalau kita sampai terjebak dalam dunia narkoba dan atau dunia malam yang penuh kemaksiatan. kita pasti awalnya nggak akan merasa kalau yang kita lakukan itu adalah salah. Secara sahabatnya sendiri loh yang mengenalkan semua hal itu. Sahabat yang justru sangat kita percayai, masak iya akan menjerumuskan. Maka jadilah kita kembali melakukan kesalahan yang sama lagi dan lagi. Sampai akhirnya kita benar-benar udah kadung masuk kedalam, udah “basah kuyup”, dan mungkin udah kehilangan banyak kebahagiaan kita yang lain, barulah kita sadar kalau yang kita lakukan adalah salah. Dan kesalahan terbesar dari semua itu adalah kita udah salah memilih orang yang kita jadikan sahabat. Hidup kita yang awalnya lurus-lurus aja, akhirnya jadi yang lebih “berwarna” dalam hal maksiatnya.

Padahal sahabat adalah pelindung, seperti Abu Bakar kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dimana ketika dalam perjalanan hijrah, di depan Gua Tsur dia berkata, “Demi Allah, janganlah Engkau Ya Rasul masuk ke dalam gua ini sampai aku yang memasukinya terlebih dahulu. Kalau ada sesuatu (yang jelek), maka akulah yang mendapatkannya bukan Engkau”.

Sahabat adalah mereka yang ikut bergembira ketika sahabatnya bergembira. Bukan malah sibuk iri dan dengki dengan keberhasilan sahabatnya. Seperti Salman Al Farisi kepada Abu Darda’. Salman yang ingin menikahi seorang wanita menemui hal kalau ternyata justru si wanita itu mencintai Abu Darda sahabatnya, dan bukan dirinya. Tapi justru kalimat inilah yang akhirnya diucapkan oleh salman kepada sahabatnya, “Semua mahar dan nafkah yang aku persiapkan akan aku berikan kepada Abu Darda’. Aku juga akan menjadi saksi pernikahan kalian”,

Sahabat adalah seperti umar bin khatab yang begitu sedih ketika Rasulullah wafat. Saking berdukanya dia sampai berkata, "Sesungguhnya beliau tidak wafat!", Beliau hanya pergi menemui Rabbnya seperti Musa yang pergi dari kaumnya selama 40 hari, lalu kembali lagi pada mereka setelah dikira mati! Demi Allah, Rasulullah pasti akan kembali! Maka tangan dan kaki siapapun yang mengatakan beliau telah meninggal akan aku potong!". Umar kala itu sangat bersedih dengan kematian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Sampai-sampai dia hampir nggak bisa mengendalikan dirinya. Itulah sahabat yang sebenarnya. Dan bukan mereka yang justru mengantarkan kita pada sebuah “kematian” lewat kesusahan atau kesedihan di hidup kita.  

Sahabat adalah yang menasehati sahabatnya agar kembali pada jalan kebaikan, dan bukan yang membiarkan atau malah yang mengajak kita untuk lebih tenggelam pada maksiat. Seperti yang disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada para sahabatnya, “... Hendaklah kalian berpegang teguh dengan Sunnah-ku, dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah (peganglah) sunnah tersebut dengan gerahammu...”

Kawan, Persahabatan adalah ajaran mulia warisan Rasululllah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Karena itu kita harus meniatkannya semata hanya karena Allah, persis seperti yang diajarkan oleh Rasul kita tersebut. Jangan sampai kita salah mengenali sahabat kita, salah memilih orang yang akan menjadi sahabat kita, dan atau salah meniatkan untuk apa kita bersahabat.

Sahabat itu nggak akan mencelakakan kita. Bahkan dia akan berusaha mencegah diri kita agar kita nggak menemui celaka. Jadi kalau orang yang kita anggap sahabat nyatanya nggak seperti itu, maka bisa dibilang kalau kitalah yang sudah salah memillih orang buat jadi sahabat kita.

 

(NayMa)

 

 



RELATED ARTICLE