Pesimis itu "Penyakit" | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Pesimis itu "Penyakit"

198 kali dilihat

Di dunia ini semua orang punya masalahnya masing-masing. Ada yang tetap semangat menyelesaikan masalahnya, ada juga yang cuek nggak perduli, tapi ada juga yang pesimis dengan masalah yang dihadapinya tersebut.

Dan buat kriteria yang ketiga ini, pelakunya justru akan merasa semakin terbebani, lho. Secara, masalah sebelumnya aja belum kelar, eh udah timbul masalah lagi. Apa sih masalah baru  itu? Ya sikap dan rasa pesimis dia sendiri itulah yang jadi masalah.

Hal ini karena orang pesimis itu takut buat maju menatap masalah itu sendiri. Takut membangun komunikasi dengan masalah itu atau dengan orang yang bermasalah dengannya. Orang tersebut juga penuh dengan kekhawatiran ini dan itu tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, serta nggak yakin bahwa di depan sana akan ada jalan terang yang akan membuatnya lega. Dan yang paling parah dari semua itu, pilihan sikap pesimis itu juga menandakan bahwa dia ragu kalau kuasa Allah yang sangat besar untuk membantu dia keluar dari masalah tersebut.

Allah juga menciptakan semua di dunia ini perpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada sedih ada gembira, ada jantan ada betina, dan lain sebagainya. Jadi kalau ada sebuah masalah yang datang ke kita, pasti jugalah akan ada solusi buat masalah tersebut. Tapi kalau belum-belum kita sudah bersikap pesimis dulu dalam menghadapi hal itu, maka bisa dikatakan bahwa kita sendirilah yang justru akan memangkas jalan keluarnya nanti.

Rasa pesimis itu juga ibarat “penyakit” yang akan menjangkitinya seumur hidup kalau dia sendiri nggak punya niat kuat buat mengobati dan atau menghilangkannya. Dan kabar buruknya lagi adalah ketika semua rasa itu terus dipertahankan dan dipelihara, otomatis orang tersebut juga kudu menyiapkan sebuah kehidupan yang gagal untuk masa depannya nanti.

Maka dari itu, siap nggak siap, senang nggak senang, kuat nggak kuat, semua masalah yang datang memang harus kita hadapi. Jangan pernah lari darinya, karena kalau tidak  kita akan semakin masuk dan berkutat dengan masalah tersebut lebih lama dan lebih repot. Lebih baik sengsara sekarang, tapi lega kemudian, dari pada kita senang-senang tapi hanya dengan kesenangan semu, dan setelah itu kita jadi makin pusing lebih lama karena masalah kita nggak kelar-kelar. Seperti kata pepatah “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Setuju? 

 

(NayMa)

 



RELATED ARTICLE