Minyak Wangi, Apakah Diperbolehkan bagi Wanita? | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Minyak Wangi, Apakah Diperbolehkan bagi Wanita?

325 kali dilihat

Manusia fitrahnya menyukai sesuatu yang berbau harum. Hal ini membawa sensasi kenyamanan tersendiri serta dapat menenangkan pikiran yang sedang stress. Karena itu minyak wangi sangat dianjurkan untuk dipakai seorang istri ketika sedang berdekatan dengan suaminya. Karena selain dapat memanjakan penciuman suami, bau yang wangi juga dapat meningkatkan keharmonisan dan rasa kasih sayang diantara suami istri tersebut. Sang istripun juga akan terlihat lebih menyenangkan dalam pandangan suaminya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda, Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci (HR. An-Nasai dan Ahmad).

Namun memakai minyak wangi jelas dilarang ketika seorang wanita sedang keluar rumah atau bepergian. Aturan ini sebenarnya berguna bagi si wanita itu sendiri. Hal ini karena, bau harum yang tercium akan mengundang godaan para laki-laki disekelilingnya, yang menyebabkan wanita tersebut akan menjadi bahan kejahilan.

Dari Yahya bin Ja’dah, di masa pemerintahan Umar bin Khatab ada seorang perempuan yang keluar rumah dengan memakai wewangian. Di tengah jalan, Umar mencium bau harum dari perempuan tersebut maka Umar pun memukulinya dengan tongkat. Setelah itu beliau berkata,

 “Kalian, para perempuan keluar rumah dengan memakai wewangian sehingga para laki-laki mencium bau harum kalian! Sesungguhnya hati laki-laki itu ditentukan oleh bau yang dicium oleh hidungnya. Keluarlah kalian dari rumah dengan tidak memakai wewangian”. (HR. Abdurrazaq)

Islam sangat memuliakan dan menghormati wanita. Aturannya semata-mata hanya untuk melindungi mereka.  Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad).

Dari Ibrahim, Umar bin Khatab memeriksa shaf shalat jamaah perempuan lalu beliau mencium bau harum dari kepala seorang perempuan. Beliau lantas berkata, Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. Jika keluar rumah hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai oleh budak perempuan”. Ibrahim mengatakan, “Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar).” (HR. Abdur Razaq).

Hijabers, kita sebagai muslimah seharusnya bersyukur kepada Allah dan RasulNya karena telah memberikan kepada kita aturan dengan begitu detail, bahkan tentang urusan yang kita anggap “sepele” sekalipun. Hal ini karena hak dan kehormatan kita akan terlindungi dengan baik dan terjaga dari kerusakan. Karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk melaksanakan aturan Allah dengan baik dan penuh ketaatan, termasuk dalam hal berhias dan minyak wangi ini.



RELATED ARTICLE