Menjamak Sholat | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna. P. Sari Editor : BL

Menjamak Sholat

229 kali dilihat

(DiaryHijaber.com) - Segala puji  bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para pengikutnya.


Sholat adalah tiang agama. Sholat adalah juga amal ibadah yang akan dihisab pertama kali ketika nanti kita telah berada di hari kiamat. Dan seperti kita tahu bahwa sholat lima waktu adalah diwajibkan untuk seluruh muslim dan muslimah. Namun dalam keadaan tertentu seperti sakit atau sedang bepergian, kewajiban sholatpun bisa diperingan yaitu dengan cara dijamak. Maha suci Allah, yang selalu memudahkan kita dalam beribadah kepadanya.

Menjamak shalat artinya mengerjakan dua shalat wajib di salah satu waktu, baik dengan mengerjakan di waktu shalat yang pertama atau jamak takdim, dan dikerjakan di waktu shalat yang kedua atau jamak takhir.

Dari anas, ia berkata, “Rasulullah apabila ia bepergian sebelum matahari tergelincir, maka ia mengakhirkan salat duhur sampai waktu asar, kemudian ia berhenti lalu menjamak antara dua salat tersebut, tetapi apabila matahari telah tergelincir (sudah masuk waktu duhur) sebelum ia pergi, maka ia melakukan salat duhur (dahulu) kemudian beliau naik kendaraan (berangkat), (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa Rasulullah pernah menjamak salat karena ada suatu sebab yaitu bepergian. Hal menunjukkan bahwa menggabungkan dua salat diperbolehkan dalam Islam namun harus ada sebab tertentu. Dan sholat yang boleh dijamak adalah shalat Zhuhur dan shalat ‘Ashar, serta shalat Maghrib dan shalat ‘Isya’.

Ada syarat- syarat tertentu dalam menjamak sholat, yaitu seperti berikut ini,

  1. Dalam perjalanan jauh minimal 81 km (menurut kesepakatan sebagian besar imam madzhab)
  2. Perjalanan itu tidak bertujuan untuk maksiat.
  3. Dalam keadaan darurat misalnya bepergian, sakit,  hujan lebat, bencana alam, perang dan lain- lain.

Ibnu Taimiyah berkata, “Boleh menjamak shalat Maghrib dan Isya, begitu pula Zhuhur dan ‘Ashar menurut kebanyakan ulama karena sebab safar ataupun sakit, begitu pula karena uzur lainnya. Adapun melakukan shalat siang di malam hari (seperti shalat Ashar dikerjakan di waktu Maghrib, pen) atau menunda shalat malam di siang hari (seperti shalat Shubuh dikerjakan tatkala matahari sudah meninggi), maka seperti itu tidak boleh meskipun ia adalah orang sakit atau musafir, begitu pula tidak boleh karena alasan kesibukan lainnya. Hal ini disepakati oleh para ulama.”

 


Artikel Terkait Lainnya..
Sholatlah Sebelum Di Sholatkan

RELATED ARTICLE