DiaryHijaber
“Maksudnya Apa Ini, Sayang?” | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

“Maksudnya Apa Ini, Sayang?”

Jaman sekarang, panggilan “yang” atau “sayang” nggak cuma berlaku buat mereka yang udah nikah alias berumah tangga. Tetapi juga biasa dilakukan sama yang masih pacaran. Katanya sih biar hubungan lebih akrab dan ekspresi sayangnya kelihatan banget. Selain itu, panggilan itu juga berarti mengkhususkan atau mengistimewakan seseorang karena rasa sayang yang ada buat doi.

 

Bener-bener deh, yang namanya warna- warni pacaran nggak akan ada habisnya buat dibahas. Seribu satu rasa nyampur jadi satu. Ada bahagianya, galaunya, sedihnya, senengnya, dan lain sebagainya. Tapi diakui atau nggak, dalam pacaran galaunya pasti lebih banyak lho. Secara, yang namanya pacaran tuh seperti jalan tapi nggak napak, makan enak tapi cuma mimpi, atau ngomong banyak tapi tong kosong. Pacaran tuh nggak jelas akhirnya bakalan kemana dan seperti apa. Itulah yang akhirnya bawa banyak kegalauan, kerisauan, dan kesedihan para pelakunya.

 

Dan pacaran juga nggak kasih rasa save atau aman dan nyaman di hati kita. Gimana nggak, setiap saat si pacar bisa aja main tikung atau selingkuh dibelakang. Dan yang di selingkuhi pun cuma bisa marah, pasrah atau nangis aja. Kebanyakan sih gitu kan? Contoh kasus ya, saat nemuin sms mesra si pacar ama orang lain, ya cuma bisa nanya “Maksudnya Apa Ini, Sayang?”. Dan kalau si pacar nggak jawab apapun, mengelak atau bohong, ya udah cuma bisa bilang “kamu jahat”. Atau paling banyak juga “ya udah kita putus”. Selesai deh acara!

 

Ini jelas beda kalau sama yang udah merit, atau nikah. Mereka bisa menuntut begini begitu, karena emang ada aturan resminya dari agama ataupun negara. Ini penting terutama buat kita para cewek, karena kitapun bisa tetap meminta hak kita sebagai pasangan yang sah dari suami kita.

 

Kawan, kalau ada yang bilang “ah, masa muda kudu dimanfaatkan. Kudu ngerasain senang- senang dong”. Tapi buat kamu yang cerdas, pastinya nggak mau cuma sekedar dibuat senang- senang aja. Apalagi kalau habis itu kita ditinggal gitu aja seakan nggak pernah terjadi apa- apa. Kasihan kitanya sendiri kan?.

 

Karena itu kawan, walaupun kita masih muda kitapun harus belajar banyak-banyak menghargai diri kita sendiri. Salah satunya adalah dengan tidak buang-buang waktu untuk sesuatu yang belum pasti atau yang nggak pasti- pasti amat. Karena eh karena, waktu kita udah pasti kebuang untuk semua itu loh. Kitapun tambah umur, tambah tua dan tambah berkurang pula jatah waktu hidup kita di dunia. Kalaupun ada yang bilang “sekedar buat pengalaman”, teman- teman kita diluar sana pun telah banyak yang mengalami efek buruk dari pacaran. Kenapa kita nggak cukup belajar dari pengalaman mereka aja, kan katanya “pengalaman adalah guru yang paling berharga”, bukan?

 

Galau memang nggak mungkin kita hindari dalam hidup. Tapi kalau galau itu nggak bawa perbaikan dan nambah produktif kita, kenapa harus dilakukan? Kita yang udah dibuat Allah cantik, kenapa harus kita sia- siakan diri kita dengan memperlakukan diri sendiri dengan segitunya amat sih. Padahal Allah aja sangat mengistimewakan kita loh, dibanding dengan makhluknya yang ain. Bahkan iblispun sampai cemburu dan marah sama Allah, saat Allah nunjuk kita para manusia ini untuk jadi khalifah di muka bumi ini. Jadi, yuk belajar lebih sayang dan menghargai diri kita sendiri! Setuju?

 

(NayMa)



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top