DiaryHijaber
Kuburan yang Wangi dari Seorang Wanita Muslimah | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Kuburan yang Wangi dari Seorang Wanita Muslimah

Ketika itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang berisra mi’raj bersama malaikat Jibril. Beliaupun mencium aroma yang sangat harum. Beliau lalu bertanya kepada Malaikat Jibril, “Harum apakah itu wahai Jibril?” Malaikat Jibril menjawab, itu adalah wangi dari kuburan seorang perempuan shalihah bernama Siti Masyitoh dan anak-anaknya. Wanita yang memegang teguh kebenaran dan keimanan kepada Allah ta'ala.

Hijabers, Siti Masyitoh ini hidup di zaman Firaun, zaman dimana hiduplah seorang raja yang sangat kejam dan tercatat di dalam sejarah menganggap dirinya sendiri sebagai tuhan. Saat itu Siti Masyitoh menikah dengan seseorang yang bernama Hazaqil, yaitu orang kepercayaan fir’aun dan seorang pembuat peti tempat Nabi Musa yang masih balita ditaruh untuk kemudian dihanyutkan di sungai.

Suatu hari terjadi perdebatan antara Firaun dengan Hazaqil. Firaun menjatuhkan hukuman mati kepada ahli sihir yang menyatakan beriman kepada Nabi Musa. Dan Hazaqil sangat menentang keputusan tersebut.

Hal itu membuat Firaun curiga, jangan-jangan Hazaqil telah beriman pula kepada Nabi Musa. Karena itulah, Hazaqil lalu di hukum mati oleh Fir’aun. Suami Siti Masyitoh ini dibunuh dengan sangat kejam. Tangannya di ikat di pohon kurma, dan tubuhnya ditusuk dengan anak panah. Masyitoh sangat sedih melihat perlakuan Fir’aun kepada suaminya tersebut. Namun ia tetap bersabar serta berserah diri kepada Allah. Masyitoh akhirnya menjalani hari seperti biasa. Ia juga tetap menjalankan tugasnya sebagai perias putri Firaun.

Pada suatu hari ketika ia sedang menyisir rambut sang putri, tiba- tiba sisirnya terjatuh. Dan ketika mengambil lagi sisir tersebut, bibirnya mengucap, ‘’Bismillah’’

Ucapan itu didengar oleh putri Firaun. Sang putri lalu berkata, “Apakah ucapan yang kamu maksud adalah bapakku,”. Siti Masyitoh lalu dengan jujur mengatakan bahwa maksud kata itu ialah Tuhan sesungguhnya, dan bukanlah raja Firaun. “Yaitu Rabbku, juga Rabb ayahmu, yaitu Allah. Karena tiada Tuhan selain Allah,” kata Masyitoh.

Kata- kata itu sangat membuat putri Firaun marah dan lalu melaporkan Masyitoh kepada ayahnya. Selanjutnya bisa ditebak apa yang terjadi. Laporan sang putri membuat Firaun murka. Ia tidak menyangka, pengasuh anaknya sendiri adalah pengikut Nabi Musa. Masyitoh dipanggil lalu ditanya oleh Firaun, “Apakah benar apa yang disampaikan anakku? Siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini?’ Masyitoh dengan tegas berkata, ‘’Betul. Tiada tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai alam dan isinya’’ Jawaban itu membuat Firaun semakin marah. Dia memerintahkan para pengawal menyiapkan minyak mendidih di dalam tembaga besar, untuk menggodok Masyitoh beserta anak-anaknya.

Penyiksaan itu di saksikan oleh para rakyat fir’aun. Dan sebelum dimasukkan ke minyak panas, Masyitoh pun diberi kesempatan sekali lagi untuk memilih, dia tetap dalam keyakinannya, atau berubah pikiran dan menganggap Fir’aun adalah Tuhan.

Namun Siti Masyitoh tidak takut pada ancaman tersebut. Ia tetap yakin Tuhan yang sesungguhnya hanyalah Allah. Melihat hal itu, Firaun lalu memerintahkan melemparkan anak Masyitoh satu persatu di hadapan ibunya hingga yang terakhir bayi yang sedang menyusu dalam pelukan Ma syitoh.

Melihat semua itu, Masyitoh sangat sedih apalagi ketika giliran bayinya yang terakhir akan dimasukkan ke dalam tembaga panas. Hal ini lalu tiba- tiba Masyitoh ragu. Namun dengan kekuasaan Allah, bayi itupun tiba-tiba bisa bicara, “Jangan takut dan ragu, wahai ibuku. Karena kematian kita akan mendapat ganjaran dari Allah SWT, dan pintu surga akan terbuka menanti kedatangan kita.” Di dalam riwayat lain, bayi Masyitoh meyakinkan ibunya, “Sabarlah wahai ibuku, sesungguhnya kita dalam pihak yang benar. Wahai ibu masukanlah, karena sesungguhnya siksa dunia lebih ringan daripada siksa akhirat” (HR Ahmad).

Seketika keraguan Masyitoh hilang. Dengan yakin dan ikhlas kepada Allah, Masyitoh membaca, “Bismillahi tawakkal tu ‘alallah wallahu akbar.’’ Siti Masyitoh dan bayinya akhirnya terjun ke minyak mendidih. Namun Allah telah dahulu mencabut nyawa mereka dahulu sehingga mereka tidak merasakan panasnya minyak mendidih itu.

Tulang belulang Masyitoh bersama anak-anaknya akhirnya dikubur di suatu tempat. Dan di kuburan mereka itulah Rasulullah SAW ketika perjalanan Isra Mi’raj mencium bau yang sangat wangi. Inilah bukti bahwa Allah selalu akan memulyakan hamba- hambanya yang selalu istiqamah dijalanNya. Maha Suci Allah, Maha Kuasa Dia meliputi alam semesta.



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top