Kisah 7 Pemuda yang Mempertaruhkan Iman, Ashabul Kahfi | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Kisah 7 Pemuda yang Mempertaruhkan Iman, Ashabul Kahfi

Di zaman sekarang ini, banyak kemaksiatan yang lalu lalang didepan mata kita. Apalagi untuk kita para pemuda, tantangannya akan semakin kompleks karena pengaruh dan godaannya memang semakin berat. Kadang, kita harus ekstra kerja keras untuk mempertahankan iman, dan agar senantiasa tetap dekat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Tak jarang, kita harus sampai mengasingkan diri, bahkan melarikan diri ke dalam kehidupan yang lebih di ridhoi Allah, demi mempertahankan keimanan kita.

Hal seperti ini ternyata tidak hanya terjadi dijaman ini saja. Bahkan sebelum kita terlahir di dunia ini, sebuah peristiwa yang sama telah terjadi. Dan kisah nyata inipun termuat abadi di dalam Alquran yang mulia, di surat Al Kahfi ayat 13, (yang artinya), “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) kisah ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambahkan untuk mereka petunjuk.” 

Inilah kisah tentang para pemuda yang ingin mempertahankan iman mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta yang meyakini bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah subhanahu wa ta’ala semata. Mereka dijuluki sebagai Ashabul kahfi.

Kisah ini terjadi sekitar kurang lebih 1400 tahun yang lalu, yaitu ketika pemerintahan Raja Decius dari Roma, yaitu di tahun 249 – 251 masehi. Adapun tentang jumlah para pemuda tersebut, sebagian ahli tafsir menguatkan bahwa jumlah mereka tujuh orang dan yang ke delapan adalah anjingnya. Dan Allah menyebutkan persangkaan orang-orang ahlul kitab tentang jumlah mereka. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya (yang artinya) “Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan, (Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan, (Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya. Katakanlah, Rabb-ku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) berdebat tentang hal mereka, kecuali perdebat lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka.” (Al-Kahfi: 22).

Saat itu masyarakat disana banyak yang hidup sebagai penyembah berhala. Namun para pemuda itu berbeda. Mereka tetap meyakini bahwa Allah adalah satu- satunya tuhan yang berhak disembah dan di ibadahi. Melihat keteguhan iman para pemuda tersebut, sang raja lalu ingin membunuh mereka. Pemuda-pemuda itu lalu akhirnya melarikan diri, dan sampailah mereka di sebuah gua yang kemudian dipakai sebagai tempat persembunyian.

Mereka lalu berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala: “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan Kami (ini).” (Al-Kahfi: 10).

Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa mereka. Mereka lalu berlindung di dalam sebuah gua yang luas tersebut dengan nyaman. Tak hanya itu, Allah juga menidurkan mereka di dalam, sebagaimana firman-Nya (artinya): “Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.” (Al-Kahfi: 11). Di dalam ayat lainpun dituliskan, “Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur.” (Al-Kahfi: 17).

Dengan ijin Allah, tidur mereka itupun berlangsung selama tiga ratus sembilan tahun. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan mereka tinggal dalam gua tersebut (selama) tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (Al-Kahfi: 25).

Lalu Allah subhanahu wa ta’ala membangunkan mereka agar saling bertanya-tanya di antara mereka sudah berapa lamakah mereka tinggal di dalam gua? Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka, Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?). Mereka menjawab, Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari. Berkata (yang lain lagi), Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada (di sini).” (Al-Kahfi: 19).

Selanjutnya, ketika mereka merasakan lapar, lalu dimintalah salah seorang di antara mereka dengan membawa uang perak untuk membeli makanan. Tapi, hal luar biasa kemudian mereka dapati. Negeri mereka sudah berubah, penduduknya pun telah berganti. Merekapun tidak dikenal atau mengenali lagi orang- orang di sana. 

“Maka suruhlah salah seorang di antara kalian untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untuk kalian, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan hal kalian kepada seorang pun. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempat kalian, niscaya mereka akan melempar kalian dengan batu, atau memaksa kalian kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kalian tidak akan beruntung selama lamanya. Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya.” (Al-Kahfi: 19-21).



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top