DiaryHijaber
Ketika Amarah tak dapat Diredam | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

Ketika Amarah tak dapat Diredam

Ketenangan dan amarah tidak akan memiliki level yang sama didalam hati seseorang. Salah satu akan menguasai yang lain. Dan ketika hati sudah dominan dipenuhi oleh satu diantaranya, maka yang lainnya pasti akan memiliki porsi yang kalah, atau akan dimudah dikalahkan.

Walaupun rasa marah adalah manusiawi atau wajar sekali bagi seorang manusia, namun hati yang dirawat untuk dekat kepada Allah akan memiliki kekhususan. Mereka yang memenuhi hatinya dengan Allah itu, akan sangat sulit baginya untuk marah atau di buat marah. Hal ini karena hati yang dekat dengan Allah tersebut, otomatis akan dipenuhi oleh kesabaran, ketenangan dan kelembutan.

Bandingkan dengan  begitu banyak manusia yang lupa dari mendekatkan diri kepada Allah. Hidupnya hampa, hatinya kosong, hari- harinya bingung, dan jiwanya gampang dipenuhi oleh amarah. Masalah yang ringan saja, akhirnya menjadi berat karena jiwanya yang tidak tenang. Jalan keluar yang sudah didepan mata, seakan kabur karena kalutnya fikiran. Bebannya akan terasa semakin berat dan kusut, seakan lebih sulit untuk diselesaikan.

Sejarah juga telah banyak mencatat, bahwa amarah tidak hanya akan merusak jiwa satu orang. Namun juga akan merusak manusia disekelilingnya. Seringkali karena sebuah amarah lah muncul banyak kasus pembunuhan, amarah juga menyebabkan pertikaian bahkan perang besar, amarah juga menyebabkan banyak terjadinya kerusakan dan adu domba. Maka tidak berlebihan jika kemudian dikatakan bahwa rasa marah bisa menjadi pangkal dari banyak keburukan atau bahkan kejahatan.

Saking pentingnya kita untuk menghindarkan diri dari rasa marah ini, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wassalam berpesan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” (HR al-Bukhâri).

Hijabers, jika kita tidak ingin hidup kita semakin sulit maka jauhilah rasa amarah yang merusak. Rawatlah senantiasa hati kita agar selalu dekat dengan Allah. Jangan biarkan iman kita kering dan jiwa kita kosong. Karena seseorang yang hidupnya hampa, tidak lain hanya akan menjadi seperti mayat hidup yang tidak tahu harus bagaimana dan akan bagaimana. Masa depannya bingung, dan hari-harinya suram.

Hal ini karena sebuah amarah ternyata tidak hanya memberikan satu masalah saja. Masalah berikutnya akan beruntun terjadi dan menimpa kita. Sabar sedikit, tenang  sebentar kadang akan jauh lebih baik, karena pada setiap sabar terkandung kebaikan yang diberikan Allah. Ingatkah kita akan firman Allah berikut ini, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (Al-Baqarah: 45-46)

Mari Hijabers, kita mohon kepada Allah agar selalu diberikan kemenangan dari hawa nafsu kita yang penuh amarah, dan dikaruniakan hati yang tawadhu, tenang dan dipenuhi kegembiraan, sehingga ketika kita harus bertemu dengan situasi yang dapat memancing kemarahan kita, maka Allah akan memudahkan kita untuk bersabar, lapang dada, legowo, dan tidak akan menimbulkan masalah baru.

“A’uzubillahi minasy syaitanir rajimi. Allahummagfirli zanbi wazhab gaiza qalbi wa ajirni minasy syaitanir rajimi.”


Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Ya Allah, ampunilah dosaku dan hilangkanlah kepanasan hatiku dan lepaskanlah aku dari gangguan syetan yang terkutuk.”

 Aamiin

 

 

 

 

Writer : Ratna P Sari

Editor : BL



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top