Jangan Pernah "Bermusuhan" Dengan Waktu | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

Jangan Pernah "Bermusuhan" Dengan Waktu

Orang yang paling menyesal di dunia ini, adalah orang yang menyia-nyiakan waktu buat ngelakuin sesuatu yang nggak guna. Sampai akhirnya dia menyadari kalau masanya udah habis dan diapun menua, tapi ternyata tangannya “masih kosong” alias dia belum punya mendapatkan apa yang di cita- citakan.

Dia cuma bisa berharap waktu bisa diputar balik lagi. Tapi kenyataannya sampai kapanpun hal itu nggak akan bisa kejadian. Akhirnya dia cuma bisa menyalahkan dirinya sendiri kenapa dulu banyak menunda dan membuang waktunya sendiri. Diapun cuma bisa menikmati kekalahannya sambil bersedih. Tapi sekali lagi hal itu nggak akan ngembalikan semuanya seperti semula, apalagi memperbaiki keadaan yang udah terlanjur “jadi bubur”.

Karena itu kawan, jangan pernah “bermusuhan” dengan waktu dengan menganggapnya remeh dan bisa diperlakukan seenak kita. Karena dia lebih tajam dari pedang, lebih sensitif dari pada cewek yang lagi mau datang bulan, lebih bahaya dari pada ibu-ibu yang lagi belajar naek motor tapi udah nekat ngebut di jalan, dan seterusnya deh.

Bersahabatlah dengan waktu, dengan memanfaatkannya dengan baik. Karena begitu dia datang, dia langsung pergi dan nggak akan pernah yang namanya nengok ke belakang lagi. Dia seperti anak panah yang kalau udah di lepas, dia langsung melesat ke depan, dan nggak pakai jeda lagi. Tahu-tahu kita tua, dan tahu-tahu kita belum apa-apa. Belum punya apa-apa dan belum jadi apa-apa. Ngeri nggak tuh? sedangkan kelalaian dan foya-foya yang kita kira akan abadi, ternyata cuma sekejab aja. Kita bahkan udah lupa gimana rasanya.

Dan kalau hal ini benar kejadian di kita sekarang, nggak perlu sedih lebih dalam dan segeralah bangkit. Karena terpuruk dua kali sama dengan kalah dua kali, dan buang waktu dua kali pula. Kalau begitu kitapun semakin akan rugi. Segeralah bangkit dan lakukan apa yang bisa kita lakukan. Walaupun mungkin keadaan nggak akan bisa membaik seperti semula, tapi paling nggak diri kita sendiri berhak mendapatkan harapan lebih lho buat dibahagiakan. Mumpung judulnya kita masih hidup, dan nama kita belum tertulis di nisan. InshaAllah masih akan ada harapan. Walaupun itu artinya kita harus berjuang dua kali lebih susah.

Jangan ulangi kesalahan kita seperti dulu lagi. Dan jadikan hal tersebut sebagai pengingat kita yang paling kuat kalau waktu ternyata sangat berharga, dan adalah modal utama kita yang nggak bisa dibeli dengan rupiah, walau berapapun jumlahnya.

Satu lagi kawan yang harus kita ingat, buang-buang waktu juga akan lebih dalam dan sakit penyesalannya kalau berhubungan dengan urusan akhirat. Secara, pas kita udah dipadang Mahsyar nanti dan kitapun nggak bisa balik ke dunia dan berharap bisa memperbaiki catatan kita yang udah tertulis di buku amal. Kitapun cuma bisa meratap dan nggak ngerti harus berbuat apa-apa lagi kecuali emang kudu siap berhadapan dengan neraka Allah. Sampai- sampai di AlQuran di gambarkan bahwa orang-orang yang mengalami hal seperti itu, mereka berharap kalau mereka cuma diciptakan dulu sebagai tanah aja.

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.” (QS.an-Naba’:40)

Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, Seandainya kami dikembalikan (ke dunia) tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” (QS.al-An’am:27)

Naudzubillah, moga yang begini jangan sampai kejadian di kita ya, kawan? Apalagi semua itu abadi alias selama-lamanya, dan tanpa batas waktu sama sekali. Jadi, yuk mulai sekarang kita siapkan yang terbaik yang kita bisa juga buat bekal akhirat kita biar kita bisa senang-senang nanti disana, dan jauh dari penyesalan karena sudah buang- buang waktu berharga kita.

 

(NayMa)

 

 



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top