Dunia, Kesenangan yang Melalaikan | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

Dunia, Kesenangan yang Melalaikan

Sebuah kisah terjadi di zaman Nabi Isa ‘Alaihissalam. Suatu hari, seorang laki-laki meminta izin kepada Nabi Isa agar diperbolehkan menemani beliau dalam suatu perjalanan. Tanpa banyak berpikir, Nabi Isa pun mengizinkannya. Lalu berjalanlah mereka berdua hingga sampai di sebuah sungai, seketika itulah mereka berdua istirahat sejenak untuk makan siang. Saat itu, perbekalan yang mereka punyai hanyalah tiga potong roti, dua dimakan, dan satunya disisakan.

Selesai makan, nabi Isa beranjak ke arah sungai untuk minum, dan sedetik kemudian kembali ke tempatnya semula. Namun, ia tidak mendapati sisa roti yang satu itu. Spontan beliau pun bertanya kepada laki-laki yang menemaninya, “Siapa yang memakan sisa satu roti tadi?.” Ia menjawab, “Aku tidak tahu.” Lalu mereka berdua pun melanjutkan sisa perjalanannya. Tiba-tiba tampaklah seekor rusa bersama dua anaknya. Tanpa pikir panjang lagi, keduanya langsung menyembelih seekor anak rusa itu, lantas memakannya hingga kenyang. Kemudian Nabi Isa berkata kepada bangkai rusa yang telah disembelih tersebut, “Dengan izin Allah, hiduplah kembali wahairusa.” Sejurus kemudian rusa itu pun kembali hidup, lalu pergi meninggalkan keduanya.

Lantas Nabi Isa bertanya kepada laki-laki yang menemaninya, “Demi Allah yang memperlihatkanmu keajaiban ini, siapa yang memakan roti itu?” Ia pun tetap menjawab, “Aku tidak tahu”. Kemudian keduanya berjalan lagi hingga tiba di sebuah lembah yang penuh air. Serta merta Nabi Isa menggandeng tangan laki-laki itu dan berjalan di atas air seraya menanyainya lagi, “Sekarang, jawablah! Siapa yang mengambil roti itu.” Kali ini pun ia masih menjawab dengan jawaban yang sama, “Aku tidak tahu.”

Lalu keduanya melanjutkan perjalanannya lagi hingga akhirnya tiba di sebuah padang sahara yang tandus. Segera Nabi Isa mengumpulkan tanah atau pasir, lantas berkata, “Dengan izin Allah, jadilah emas!” Maka tanah atau pasir itu pun berubah menjadi emas. Kemudian Nabi Isa membagi emas itu menjadi tiga, “Satu bagian untukku, satu bagianuntukmu, dan satu bagian lagi untuk yang memakan roti itu,” ujarnya. Tiba-tiba teman laki-lakinya itu mengaku, “Akulah yang memakan roti itu.” Begitu mendengarnya Nabi Isa pun menimpali, “Kalau begitu, semua emas ini untukmu saja.” Lalu beliau pergi meninggalkan temannya itu sendirian.

Tak berselang lama, teman laki-laki Nabi Isa kedatangan dua orang yang ingin merebut emas itu dari tangannya. Karena takut dibunuh, laki-laki itu pun berkata, “Bagaimana kalau emas ini kita bagi bertiga saja?” Tanpa basa-basi kedua orang itu menerimanya. Sejurus kemudian ketiganya memutuskan untuk berteman. Tiba-tiba salah seorang dari mereka diminta untuk membeli makanan ke desa terdekat. Di tengah perjalanan, laki-laki yang membeli makanan itu berujar dalam hati, “Kenapa emasitu harus dibagi tiga? Biarlah aku racuni makanan ini; agar kedua temanku itu sudah tidak ada. Kalau sudah begitu kan emas itu menjadi milikku seorang,” seraya menaruhracun pada makanan itu.

Sementara, salah seorang dari kedua temannya yang menunggu juga berujar, “Kenapa sih teman kita yang satu inimeski mendapat bagian sepertiga? Kenapa tidak kita bunuh saja dia sekembalinya dari desa? Lalu kita bagi emas ini berdua saja,” ujarnya kepada teman satunya. Begitu ia kembali, keduanya langsung membunuhnya, lalu memakan apa yang telah dibelinya. Tak berselang lama, keduanya pun ikut menyusul menemui ajal karena keracunan. Ketiga-tiganya akhirnya meninggal dunia sebagai korban dari emas itu. Pada akhirnya emas itu pun tak bertuan. Beberapa saat kemudian, Nabi Isa melewati tempat tersebut, seraya mendapati apa yang telah terjadi. Serta merta Beliaupun berkata, “Inilah dunia, berhati-hatilah.”

Hijabers, semua yang ada di dunia ini memenjarakan kita, banyak melenakan dan banyak memberi tipuan kepada kita. Jangan terlalu larut dalam urusan, kesenangan dan kebutuhan dunia, kecuali hanya sekedar kebutuhan kita saja. Karena pasti tidak akan ada habisnya. Semakin kita menginginkan lebih banyak, maka rasa puas itu semakin tidak ada. Jika kita tidak bisa mengendalikan diri dan mengatur porsi serta berpegang teguh kepada ajaran Allah dalam segala urusan yang menyangkut dunia, maka kita akan tenggelam didalamnya, menjadi budaknya, dan hidup kita terasa lebih rumit. Hari hari kita habis dan berlalu begitu saja tanpa makna. Hati kita kosong, dan jiwa kita hambar. Kita bahkan tidak akan bisa lagi mengenali siapa diri kita, untuk apa kita diciptakan, dan siapa tuhan kita.

Kebahagiaan abadi seorang muslim bukan di dunia ini. Karena sesungguhnya dunia hanyalah sekedar sarana untuk pengabdian dan pembuktian iman kita kepada Allah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk tetap ingat tentang hal itu, dan kita tidak dibiarkan melenceng jauh dan semakin jauh, yang akhirnya membuat kita tersesat dalam tipudaya dunia yang melalaikan. 

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. Al-Hadid: 20)




 


 

Writer : Ratna P Sari

Editor : BL




RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top