Dosa Riba dan Bahayanya yang Menyeramkan | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Dosa Riba dan Bahayanya yang Menyeramkan

457 kali dilihat

Praktek riba dijaman sekarang ini udah tersebar di mana-mana, mulai dari masyarakat yang kecil bahkan sampai pada tataran negara. Praktek ini juga ramai sekali terjadi dalam dunia perbankan, lembaga perkreditan, bahkan sampai dalam arisan warga. Riba juga terjadi karena kebanyakan orang begitu silau dengan harta, sampai-sampai mereka tidak perduli lagi tentang halal atau haramnya. Maka benarlah apa yang telah disabdakan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.” (HR. Bukhari).

Karena itu, bagi kita yang ingin selamat dari semua itu haruslah banyak-banyak mengkaji tentang apa yang dimaksud dengan riba, apa saja bentuknya dan bagaimana dampak bahayanya, terutama sebelum kita bermuamalah. Karena Islam selalu mengajarkan agar kita berilmu terlebih dahulu, agar amalan kita tidak sia-sia, dan tidak bisa terjerumus dalam sesuatu yang diharamkan. ‘Ali bin Abi Tholib mengatakan, “Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.”. ‘Umar bin Khottob radhiyallahu ‘anhu pun juga berpesan, “Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba.”

Secara etimologi, riba berarti tambahan, bertambah dan tumbuh. Sedangkan secara terminologi, para ulama berbeda-beda dalam mengungkapkannya. Ibnu Qudamah menyatakan bahwa riba adalah: “Penambahan pada barang dagangan/komoditi tertentu."

Praktek-praktek nyata riba yang terjadi dimasyarakatpun bermacam- macam. Salah satu contohnya adalah seseorang yang meminjamkan uang 170 juta namun mensyaratkan mendapat pengembalian menjadi 200 juta.

Hukum riba adalah haram dalam syari’at Islam. Allah Ta’ala berfirman, (yang artinya), “Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal Sesungguhnya mereka Telah dilarang daripadanya.” (QS. An Nisaa’: 161). Di dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imron: 130).  “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275).

Selain itu Rasulullah SAW juga telah dengan tegas mengharamkan Riba, dan menunjukkan bahwa memakan riba termasuk dosa besar. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya dalam neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut?” Beliau mengatakan, “[1] Menyekutukan Allah, [2] Sihir, [3] Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, [4] Memakan harta anak yatim, [5] memakan riba, [6] melarikan diri dari medan peperangan, [7] menuduh wanita yang menjaga kehormatannya lagi (bahwa ia dituduh berzina).” (HR. Bukhari).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melaknat para pemakan riba, yang mencari pinjaman dari riba, bahkan setiap orang yang ikut menolong dalam mu’amalah ribawi juga ikut terlaknat.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.” (HR. Muslim).

Hal ini dikarenakan sangatlah besar dampak buruk dari memakan riba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi) . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi). Tak hanya itu saja, tersebarnya riba secara tidak langsung adalah “pernyataan kerelaan” dari suatu kaum bahwa mereka berhak dan layak untuk mendapatkan adzab dari Allah Ta’ala. Beliau Rasulullah SAW bersabda, “Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (HR. Al Hakim).

Karena itu Hijabers, mari kita memohon kepada Allah agar senantiasa dijauhkan dari memakan harta yang haram dan dikuatkan diri kita untuk menjauhi pula praktik riba. Agar hidup kita senantiasa selamat dan penuh berkah.

“Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot, wa tarkal munkaroot” (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan berbagai kemungkaran) (HR. Tirmidzi).

Aamiin...



RELATED ARTICLE