Dari "Tulang Rusuk" Ke "Tulang Punggung" | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Dari "Tulang Rusuk" Ke "Tulang Punggung"

486 kali dilihat

Hidup kadang nggak selalunya berjalan seperti yang kita impikan. Ada kalanya kita dibawa di situasi yang tidak memberi kita pilihan lain, kecuali harus melakoni keadaan tersebut. Salah satunya ketika kita sebagai wanita yang biasanya menjadi tulang rusuk suami, tapi akhirnya harus ikut menjadi tulang punggung keluarga karena beberapa sebab. Seperti suami yang tiba- tiba sakit parah sehingga tidak bisa bekerja mencari nafkah, dan atau menjadi single parent bagi anak- anak kita.

 

Kawan, memang wanita diciptakan Allah penuh kelembutan dan juga sifat manja. Tapi bukan berarti kita para wanita boleh bersikap lemah, dan manja, apalagi jadi yang nggak bisa diandalkan ketika keluarga sedang berada dalam keadaan yang sulit. Kita sebagai wanita harus siap dalam apapun kondisi hidup kita. Karena mau mengeluh ataupun marah, itu nggak ada gunanya juga dan nggak akan ngubah keadaan jadi lebih baik. Yang ada semua akan tambah ribet dan repot.

 

Karena itu, kalaupun kita harus menjadi “tulang punggung” keluarga, maka kitapun harus dengan segenap hati ikhlas melakoni pekerjaan kita. Tapi memang ada hal yang harus kita ingat, bahwa sebagai muslimah kita memang punya aturan tersendiri yang diberikan oleh Allah. Dan sebagai orang yang beriman, kita harus patuh dengan semua aturan tersebut. Karena bila tidak, kerja keras kita pun tidak akan bernilai ibadah di hadapan Allah. Aturan seperti harus dengan seijin suami, tetap menutup aurat, tidak tabaruj atau berdandan belebihan, menjaga pergaulan dengan lawan jenis, dan lain- lain pun harus tetap kita jaga. InshaAllah dengan begitu, semua akan berjalan dengan lebih baik karena hati kitapun lega karena ada ridho Allah disana, serta ridho dari suami kita.

 

Kawan, apapun keadaan yang harus kita hadapi dalam hidup ini, terutama ketika kita harus dalam situasi menjadi tulang punggung keluarga, harus tetap kita hadapi dengan pikiran yang indah. Jangan pernah punya pikiran sedih, buruk sangka kepada Allah, apalagi sampai marah pada keadaan. Karena Allah tidak akan mencoba hambanya dengan cobaan yang diluar kemampuan hambanya tersebut. Justru saat kita harus dengan menjadi “tulang punggung” keluarga menggantikan tugas suami, maka disanalah kualitas kita yang sebenarnya sedang di uji.

 

Mengeluh, marah, sedih dan sikap negatif lainnya hanya akan mengurangi keikhlasan kita dalam beribadah dan bekerja. Yakinlah bahwa Allah juga tidak akan menyia-nyiakan usaha hambanya dalam berbuat baik. Dia Allah jugalah satu- satunya yang akan membalas dengan sempurna semua perbuatan baik yang kita lakukan hanya karenaNya. Bukankah memang itu yang kita harapkan selama kita hidup di dunia ini, yaitu bahagia dengan ridho Allah, dalam bagaimanapun keadaan hidup kita, kawan ?

 

(NayMa)

 



RELATED ARTICLE