Cemburunya Seorang Isteri Tanpa Bukti | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Cemburunya Seorang Isteri Tanpa Bukti

Cemburu adalah sifat yang normal dimiliki setiap wanita. Tak hanya kita saja, bahkan Istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam, yang berilmu tinggi yaitu Aisyah pun cemburu kepada beliau. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Suatu ketika Nabi di rumah salah seorang isteri beliau(Aisyah). Tiba-tiba isteri yang lain(Zainab binti Jahsy) mengirim mangkuk berisi makanan. Melihat itu, isteri yang rumahnya kedatangan Rasul memukul tangan pelayan pembawa makanan tersebut, maka jatuhlah mangkuk tersebut dan pecah. Kemudian Rasul mengumpulkan kepingan-kepingan pecahan tersebut serta makanannya, sambil berkata: 'Ibu kalain sedang cemburu,' lalu Nabi menahan pelayan tersebut, kemudian beliau memberikan padanya mangkuk milik isteri yang sedang bersama beliau untuk diberikan kepada pemiliki mangkuk yang pecah. Mangkuk yang pecah beliau simpan di rumah isteri yang sedang bersama beliau.” (Hr. Bukhari).

Dalam hadist yang lain diriwayatkan:  Dari ‘Aisyah : “Aku tidak cemburu kepada seorang wanita terhadap Rasulullah sebesar cemburuku kepada Khadijah, sebab beliau selalu menyebut namanya dan memujinya.” (Hr. Al Bukhari)

Sifat cemburu memanglah sangat melekat pada diri wanita. Karena wanita lebih cenderung untuk mendahulukan perasaan dan suasana hatinya. Karena itulah, kontrol diri yang kuat lebih dibutuhkan untuk seorang wanita. Karena jika cemburu tidak dikendalikan, maka si suamipun malah akan merasa seperti dituduh dan di dakwa tanpa bukti. Selanjutnya suasana rumah tangga akan memanas, karena salah satu pihak merasa tidak nyaman di dalamnya.

Jika kita taat kepada Allah, maka kitapun hendaknya bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersikap pertengahan dalam hal cemburu serta meperbanyak sikap lemah lembut kepada suami kita. Karena yang demikian ini adalah bentuk dari kesempurnaan agama dan akal kita, dan karena itupula lah Allah akan menurunkan kasih sayangnya kepada keluarga kita. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha : “Hai ‘Aisyah, bersikaplah lemah-lembut, sebab jika Allah menginginkan kebaikan pada sebuah keluarga, maka Dia menurunkan sifat kasih-Nya di tengah-tengah keluarga tersebut.” (HR. Ahmad).



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top