Celakanya Suami Dayyuts dalam Hubungan Rumah Tangga | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Celakanya Suami Dayyuts dalam Hubungan Rumah Tangga

Semua orang pasti mengharapkan keluarga yang penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan lahir batin. Dan kebahagiaan itu bisa terwujud jika ada ikatan kasih sayang dan cinta diantara anggota keluarga tersebut. Namun tahukah kita bahwa kadang, cinta yang berlebihan atau cinta yang tidak karena Allah bahkan yang ditujukan untuk keluarga kita sekalipun, bisa menjerumuskan kita dalam kebinasaan. 

Allah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka...” (QS At Taghaabun: 14).

Sesuai dengan tafsir ibnu katsir, bahwa makna “menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan para suami dari melakukan amal shaleh dan bisa menjerumuskannya ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala. Cinta yang menjerumuskan itu adalah ketika para suami menuruti atau bahkan ikut mendukung semua keinginan anggota keluarga meskipun dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, (yang artinya),

“Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat nanti, yaitu orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts..." (HR. an-Nasa’i ).

Makna ad-dayyuts adalah seorang suami atau ayah yang membiarkan kemaksiatan terjadi dalam keluarganya. Yaitu ketika dia melihat kemungkaran oleh anggota keluarganya, dia hanya diam saja dan tidak merubahnya.

Ancaman keras dalam hadits di atas menunjukkan bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar yang dimurkai Allah, sehingga diapun di haramkan masuk surga. Hal ini karena seorang suami yang dayyuts akan menyebabkan rusaknya agama dan akhlak anggota keluarga.

 Oleh karena itulah, jika para suami benar-benar menginginkan kebaikan dalam keluarganya, maka diapun harus menyadari kedudukannya sebagai pemimpin dalam rumah tangganya, sehingga dia tidak membiarkan terjadinya pelanggaran aturan aturan Allah di dalam keluarganya tersebut. Hal ini karena merekapun akan diminta pertanggung jawabannya pada hari kiamat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Allah Ta’ala mengingatkan para suami di dalam Al Quran, (yang artinya)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS At Tahriim: 6).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak dari api neraka adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka syariat Islam, serta memaksa mereka untuk melaksanakan perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat dari siksaan neraka kecuali jika dia benar-benar melaksanakan perintah  Allah, pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang berada di bawah kekuasaan dan tanggung jawabnya.”

Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya pada diri kita sendiri maupun keluarga kita.

“... Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa...” ( QS al-Furqaan: 74).



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top