Bolehkan Salat Berjamaah dengan Si Dia? | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Bolehkan Salat Berjamaah dengan Si Dia?

“Pacaran Islami” adalah fenomena yang seringkali kita jumpai sekarang ini. Hal ini karena aktivitas pacaran tersebut dilakukan dengan tetap menggunakan sederet atribut islam serta ciri khas keislaman, seperti jilbab, baju koko, berjenggot panjang, dan atau memilih lokasi untuk pacaran di masjid. Tidak lupa kalimat seperti “Kami memang berpacaran, tapi kami tidak melupakan sholat berjamaah” pun dikatakan. Mereka mengklaim bahwa walaupun aktivitas pacaran itu dilakukan, namun yang penting kewajiban utama mereka yaitu sholat tidak terbengkalai.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepada kita, (yang artinya) ”Jangan sampai seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang perempuan, kecuali dia ditemani mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, (yang artinya), ”Jangan sampai seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang perempuan. Jika terjadi makhluk ketiganya adalah setan.” (HR. Ahmad, dan Turmudzi).

Hijabers, kita diperintahkan untuk melakukan perintah Allah, dan meniadakan percampuran antara yang halal dan yang haram, serta mengadakan modifikasi atau “mengarang indah” atas aturan Allah tersebut sesuai dengan keinginan kita. Semua bukanlah untuk mengekang kebebasan kita, melainkan untuk mengekang nafsu kita yang oleh setan akan dikipas- kipasi agar semua terlihat indah dan boleh untuk dilakukan. Dan para muslimah sejati, akan memahami hal tersebut sepenuhnya.

Pacaran yang dilarang oleh Allah, tidak akan lantas berubah menjadi halal, hanya karena kita melakukan sholat berjamaah berdua saja dengan laki- laki yang bukan mahram kita. Apalagi, pasti ketika kita sholat bersama kekasih hati yang belum menjadi mahram kita itu, hati akan menikmati aktivitas yang dilarang Allah tersebut. Lalu bagaimana bisa kita melakukan kebaikan dan keburukan disatu waktu yang sama? Padahal keburukan dan kebaikan itu memiliki tempat tersendiri dan tidak mungkin menjadi satu.

Kita diperbolehkan salat berjamaah dengan yang bukan muhrim sebagai imam kita, tetapi tetap berada dalam batasan atau lingkungan yang wajar seperti salat di masjid dengan keadaan yang memang ditujukan untuk Allah, bukan hubungan dua orang yang belum muhrim.

Hati yang bersih akan condong pada kebaikan dan bisa memisahkan antara hitam dan putih. Tidak akan ada istilah, “mencuci baju dengan air kencing”, yang maksudnya tidak akan ada tindakan yang baik, yang dilakukan dengan cara yang jahat.

Hati yang mengingat Allah akan taat kepadaNya dengan total tanpa perlu menyelisihi dan apalagi mencampurkan perbuatan yang baik dengan yang buruk. Semoga kita adalah salah satu dari pemilik hati yang indah ini. Yang bisa dengan gampang menerima hidayah Allah, dan tidak  mendahulukan nafsu kita saja, dalam melakukan sebuah perbuatan. Aamiin.



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top