Bersabar Seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Bersabar Seperti Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam

178 kali dilihat

Kesabaran itu kadang memang pahit. Nggak gampang dilakukan, dan membutuhkan stok hati yang lapang, serta kadang air mata yang banyak banget. Tapi kesabaran selalu berakhir dengan happy ending. Nggak cuma itu, orang yang sabar akan selalu dikenang sebagai yang dikasihi walaupun dia sudah nggak ada di dunia ini.

Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dimana kesabaran beliau bahkan melebihi kesabaran Nabi-Nabi yang lain. Seperti contohnya, yaitu Ketika nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya dan tidak ada yang mau beriman kecuali sedikit sekali, maka Nabi Nuh berdoa agar semua orang kafir tersebut dimusnahkan seluruhnya dari muka bumi dengan banjir besar “Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi sangat kafir.” [surat Nuh: 26-27]

Tapi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah ke Thoif sekaligus meminta perlindungan, dan orang-orang disana malah menolak bahkan mengejek dan mencaci maki, mengusir melempar dengan batu sampai tubuh berdarah-darah. Tapi apa yang dibalas oleh beliau sungguh sangat mulia. Beliau malah mendoakan mereka, “Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah semata, tidak disekutukanNya dengan apa pun” [HR. Bukhari]

Contoh lain adalah Nabi Yunus yang berdakwah kepada kaumnya dan kemudian di tolak oleh mereka. Maka beliau terlalu cepat meninggalkan kaumnya dan akhirnya beliau masuk ke perut ikan.

Dan ketika Nabi Muhammad menjumpai penolakan juga dari kaumnya, Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar terus bisa bersabar, seperti disebutkan di dalam Al Quran, “Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdo’a sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh”. [Qs. Al-Qolam 48-50]

Nabi muhammad pun juga memilih untuk bersabar, ketika para istri beliau sedang nggak patuh. Beliau nggak langsung marah, langsung main pukul ataupun mengancam cerai. Tetapi beliau hanya menjauhi semua istrinya selama sebulan. Beliau melakukan itu agar para istri beliau bisa berpikir jernih tentang akibat dari perbuatan mereka. Lalu kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kalian menghendaki kehidupan dunia dan segala perhiasannya, maka kemarilah, aku akan memenuhi keinginanmu itu dan aku akan menceraikanmu secara baik-baik. Dan jika kalian menginginkan (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di kampung akhirat, sesungguhnya Allah akan menyediakan bagi hamba-hamba yang baik di antara kalian pahala yang besar.” [Qs. Al-Ahzab:28]

Beliau lebih sabar dari pada nabi Ayyub, dimana ketika istrinya nggak patuh, beliau bersumpah akan memukulnya 100 kali, tapi lalu kemudian Allah Ta’ala dalam Al Quran memberikan jalan keluar agar beliau tidak membatalkan sumpah dan tidak juga menyakiti istrinya. “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta’at (kepada Tuhan-nya) .” [Qs. Shaad: 44]

Beliau juga sama sekali nggak marah seperti ketika Nabi Musa marah kepada Nabi Harun, ketika Nabi Musa pulang dari bukit Thursina dan mendapati kaumnya membuat sesembahan sapi betina.

“Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?”. Harun menjawab: “Hai putra ibuku janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israel dan kamu tidak memelihara amanatku” [QS. Thaha : 92-94].

Kawan, kita sebagai umat Rasullah Muhammad Shalallahu 'alaihi Wasallam, seharusnya bangga dan bisa mencontoh banyak kesabaran beliau dalam berdakwah kepada keluarga dan kepada orang-orang disekelilingnya. Bersabar memang berat, tapi Allah akan selalu meridhoi kita. Dan hal itu seharusnya sudah cukup membuat kita bahagia. Karena tujuan dari iman adalah membuat yang kita imani ridho kepada kita. Bukan begitu, bukan?

 

(NayMa)

 



RELATED ARTICLE