Belajar Mencintai Sebuah Kehilangan | DiaryHijaber.com

Writer : Sam Editor : BL

Belajar Mencintai Sebuah Kehilangan

Tidak ada satu orangpun yang pastinya benar-benar siap untuk sebuah kehilangan. Apalagi ketika hal itu menyangkut sesuatu atau seseorang yang sangat dicintai. Namun kadang takdir berkata lain. Dan mau tidak mau, masa itu pasti akan datang dimana kita harus menghadapinya semua kehilangan tersebut dengan tegar dan tetap melanjutkan hidup.

Hijabers, pada dasarnya kesedihan saat kehilangan seseorang atau sesuatu yang kita cintai, itu adalah hal yang sangat manusiawi. Bahkan Rasulullah SAW pun dulu berduka saat kehilangan istri tercintanya Khadijah dan pamannya Abu Thalib ditahun kesepuluh kenabian. Padahal keduanya adalah orang yang secara lahiriyah selalu melindungi dan mendampingi beliau. Dan Umar bin Khatab ra sang “Singa padang pasir” juga sangat bersedih ketika mendengar kabar kematian Rasulullah SAW, sampai-sampai hal itu sempat mengeluarkannya dari kesadaran. Ia berdiri dan bersuara dengan lantang, "Laki laki dari kaum munafik membuat isu bahwa Rasulullah saw telah wafat. Rasulullah SAW sesungguhnya masih hidup. Ia hanya pergi menemui Rabbnya sebagaimana Musa bin Imran pergi meninggalkan kaumnya selama empat puluh hari, kemudian kembali kepada mereka, dan itu setelah diisukan bahwa ia telah mati. Demi Allah, Rasulullah SAW akan kembali dan akan memotong tangan dan kaki laki-laki yang menyebarkan isu bahwa beliau telah wafat."

Ada pula kisah tentang Abu Qudamah yang ketika itu bertemu dengan ibu dari seorang remaja yang mati syahid ketika berperang melawan tentara romawi. Sang ibu yang melihat Abu Qudamah, lalu bertanya, "Wahai Abu Qudamah, engkau datang untuk berbela sungkawa atau menyampaikan kabar gembira?" Abu Qudamah menjawab, "Apa beda antara kabar gembira dan bela sungkawa?" Wanita tersebut menjawab, "Jika anakku pulang bersama kalian dalam keadaan selamat berarti engkau sedang berbela sungkawa. Jika anakku terbunuh sebagai syahid fi sabilillah berarti engkau datang memberi kabar gembira?" Abu Qudamah berkata kepadanya, "Bergembiralah, sesungguhnya Allah telah menerima hadiahmu, anakmu telah berjumpa dengan Allah sebagai syahid." Sang ibu sangat gembira dan berkata, "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Yang telah menjadikannya sebagai simpanan bagiku pada hari kiamat."

Itulah cara beda yang dimiliki orang beriman menyikapi sebuah kehilangan. Manusiawinya mereka mungkin akan bersedih ketika mendapati semua itu terjadi di dalam hidupnya. Namun mereka punya cara, dan rasa, yang berbeda dari manusia yang lainnya. Kepasrahan hidup atas takdir Allah malah menggembirakan mereka, karena bagi mereka semua adalah milik Allah dan akan kembali pula kepadanya. “... Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al Baqarah: 155-157).

Orang yang beriman kepada Allah juga akan mengerti bahwa orang yang paling bahagia hidupnya adalah mereka yang merasa tidak memiliki hal apapun di dunia ini, bahkan nyawanya sendiri kecuali semua hanya titipan Allah, dan milik Allah. Dan otomatis pula, semua akan kembali kepada Allah. Mereka itulah orang yang juga paling damai hidupnya. Karena hati mereka luas dan ikhlas dan mau belajar menerima apapun takdir Allah yang datang kepadanya. Dan karena hal ini pula, bahkan sampai-sampai iblispun menyerah terhadapnya. "Iblis menjawab, "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka." (QS. Shad: 82-83).

Orang- orang beriman itu selalu yakin dengan pasti, bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur kehidupan, dan Allah tidak akan mungkin mendholimi hambanya dan membuat hamba-hambanya menderita. Mereka juga percaya bahwa Allah adalah pemberi pelajaran hikmah terdahsyat yang akan selalu menjadikan hidup mereka lebih baik, lebih tegar dan kuat. Inilah kekuatan iman yang sesungguhnya.

Dan karena itulah Hijabers, dengan izin Allah mereka akan dimasukkan kedalam surga Allah, sebagai buah perjuangan mereka ketika masih di dunia. Dan semoga kita termasuk salah satu manusia yang diberikan rahmat oleh Allah untuk menjadi salah satu bagian dari mereka itu. Aamiin.



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top