Bekerja Karena Allah | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

Bekerja Karena Allah

Untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari hari, manusia butuh untuk bekerja. Selain sebagai sarana mendapatkan materi dunia, bekerja adalah juga adalah sarana beribadah bagi kita. Allah dan Rasulnya sangat menganjurkan kita untuk bekerja keras dan melarang hanya berpangku tangan saja.

Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, tentu Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah. Kemudian diberikannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah [9]: 105)

Dari Miqdam bin Ma’di, Rasulullah SAW pernah bersabda "Tidak pernah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari makanan yang dihasilkan dari pekerjaan tangannya sendiri." (H.R. Bukhari)

Hijabers, Nabi dan Rasul terdahulu pun juga melakukan kerja keras. Rasulullah SAW sendiri dulu jugq bekerja sebagai pedagang, Nabi Nuh Alaihissallam membuat bahtera (perahu besar), Nabi Daud bekerja membuat baju besi, nabi Zakariya Alaihissallam bekerja sebagai tukang kayu.

Islam menganjurkan kepada kita, agar kita meniatkan pekerjaan kita itu sebagai sarana untuk mendapatkan pahala dan ridho Allah. Tentunya, hal ini bukan tanpa sebab pasti. Berkerja karena Allah nyatanya memberikan banyak efek positif bagi para pelakunya.

Pertama, orang yang bekerja karena Allah, tidak akan merasakan kekecewaan atau sakit hati apabila hasil pekerjaannya ternyata tidak dipuji atau ditanggapi dengan semestinya. Dalam hati dia berkata, toh yang diniatkan adalah pahala dan ridho Allah. Jadi tidaklah terlalu penting baginya tentang bagaimana timbal balik dari manusia disekitarnya. Ia mendapatkan kritikan dari hasil pekerjaannya tersebut. Akan lebih gampang legowo karena mengakui bahwa tidak ada seseorang yang begitu sempurna dalam melakukan apapun, kecuali hanya Allah.

Orang yang bekerja karena Allah juga tidak akan gampang sombong dengan prestasi. Sadar bahwa apa yang dimiliki adalah semata mata pemberian Allah, ia juga tidak gampang putus asa ketika dalam kegagalan. Karena dia mengerti semua itu dibenci oleh Allah. Selagi masih ada Allah yang maha Kuasa dan maha menolong, berarti akan selalu ada harapan baru untuk keluar dari sebuah keadaan yang sulit.

Ia juga akan tetap bekerja dengan kualitas yang sama walau diawasi atau tidak diawasi siapapun. Merasa bahwa pekerjaan baginya adalah amanah yang nanti bakal ditanyakan oleh Allah. Jadi cukup baginya pengawasan dari Allah sajalah sudah cukup membuatnya semangat dalam bekerja.

Selanjutnya, hasil dari pekerjaan itu baik berupa materi atau yang lain juga selalu di syukurinya. Ia percaya bahwa kadar rejeki seseorang telah diukur dengan pas oleh Allah. Tidak mungkin meleset ataupun tertukar oleh orang lain. Sebagai akibatnya, hatinya akan tentram, tenang dan damai. Dan karena rasa syukur itu pula, karena diapun juga tidak terpikirkan akan godaan memakan harta yang haram hasil dari penyelewengan pekerjaannya tersebut.

Ketika seseorang bekerja karena Allah, dia juga akan menjaga aturan Allah dalam bekerja. Bahkan ketika atasannya memintanya mengerjakan hal yang ternyata melanggar aturan Allah, dia tanpa ragu akan bisa menolaknya. Keberanian yang seperti ini justru yang akan membuatnya benas dari rasa was was dan khawatir.

Begitulah keuntungan manusia yang mampu bekerja karena Allah, dan meniatkan apa yang dia kerjakan demi ridhonya Allah. Merekalah orang orang yang mendapatkan rahmat dan keberkahan dari Allah. Mereka tidak hanya mendapatkan kesenangan dalam materi dunia tapi juga mendapatkan ketenangan dalam batinnya juga. Betapa beruntungnya mereka itu. Bagaimana tidak, bandingkan dengan orang orang yang sibuk bekerja hanya demi menumpuk harta, menaikkan gengsi, menjadi kaya, dan sederet tujuan duniawi lainnya. Halal haram bukan hal yang penting untuk dibahas. Sikut kiri kanan sudah bukan cerita baru juga. Segala cara dilakukan dengan tujuan utama, uang dan kesenangan. Di ujung cerita, kebanyakan mereka justru mendapatkan kesusahan dari harta dan pekerjaan mereka itu. Hal ini karena ridho Allah tidak hadir, keberkahan juga tidak diturunkan, dan mungkin doa doa orang yang pernah dirugikan dalam pekerjaannya itu, dikabulkan oleh Allah.

Hijabers, kalau sudah begini tentu kerugian tidak lain adalah pada diri kita sendiri. Karena itu sebenarnya memang tidak ada pilihan lain bagi kita jika ingin senang, tenang dan lancar dalam bekerja kecuali memang harus meniatkan dan melakukannya hanya karena Allah saja. Akhirnya, kebaikan dari itu semua akan kembali kepada kita dan kita sendiripun yang akan menikmati hasil dari apa yang telah kita "tanam" tersebut.



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top