DiaryHijaber
Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku

Wahai Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.” (Tafsir Al Qurthubi)

Inilah pernyataan dari Al Walid bin Mughirah, Al ‘Ash bin Wail, Al Aswad Ibnul Muthollib, dan Umayyah bin Khalaf yaitu para orang-orang Quraisy yang ketika itu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebelum turunnya surat Al Kafirun.

Dan ketika kemudian 6 ayat dari surat tersebut turun, maka jelaslah aturan dari Allah agar umat Islam berlepas diri secara lahir dan batin terhadap apa yang agama lain sembah dan dipercayai.

Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ayat terakhir surat al Kafirun yang berbunyi ‘lakum diinukum wa liya diin’ (Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku).

Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.

Hijabers, Islam telah mengajarkan dengan jelas kepada umatnya untuk tidak boleh mengganggu, atau ikut serta dalam apapun ritual agama lain, termasuk mengucapkan selamat hari raya bagi agama lain. Dengan memiliki prinsip yang jelas ini, bukan berarti kita tidak bertoleransi dengan agama lain. Karena menghormati dan bertoleransi dalam Islam bukan lantas memberikan selamat atas perayaan yang bukan milik kita. Toleransi juga bukan berarti ikut larut dalam suka cita perayaan agama lain yang akhirnya bisa mengganggu aqidah kita. Toleransi dalam Islam adalah dengan cukup membiarkan saja mereka merayakan apa yang mereka yakini.

Memang justru akan banyak orang islam sendiri yang lantas sewot atau malah akan mengaitkan sikap seperti ini dengan arti “berlebihan”. Padahal dengan memiliki prinsip yang tegas dan jelas inilah, justru Islam dahulu mencapai puncak kejayaan dan disegani lawan-lawannya. Orang muslim sejati bukan mereka yang hanya asal ikut, atau asal orang lain senang, tapi lebih mengutamakan tentang bagaimana ridha Allah, dan bagaimana contoh yang telah diberikan oleh Rasulullah SAW.

Semoga kita bukan termasuk orang yang salah kaprah dalam mengartikan toleransi. Semoga Allah membukakan pintu hati kita dan melembutkannya agar kita bisa menjadi seorang muslim sejati, yang selalu mengutamakan bagaimana ridha Allah dahulu dibanding siapapun, dan apapun yang ada di dunia ini. Aamiin.

 



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top