DiaryHijaber
Jangan Berlebihan, Berendah hatilah | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

Jangan Berlebihan, Berendah hatilah

“Dan berendah hatilah kamu terhadap orang-orang beriman.”(QS. Al-Hijr : 88)


        Dikisahkan suatu malam datanglah seorang tamu kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ketika itu khalifah sedng menulis. Lampunya hampir saja padam. Tamu itu berkata, “Biarlah saya yang memperbaiki lampu itu, ya Amirul Mukminin.” Tapi beliau menjawab, “Jangan! Tidak baik seorang menganggap tamunya sebagai pelayan. Itu bukan akhlak yang mulia. Kemudian tamu itu berkata, “Kalau begitu, biarlah saya bangunkan pelayan saja.” Tapi beliau menjawab, “Jangan! Ia baru saja tidur, agaknya sejak tadi ia belum merasakan kelezatan bantalnya. ”Akhirnya, khalifah membetulkan sendiri lampunya. Tamu itu bertanya, “Mengapa Anda sendiri yang membetulkan lampunya, ya Amirul Mukminin?” Beliau menjawab, “Mengapa tidak? Kalau saya pergi pun tetap Umar, kalau saya kembali pun tetap Umar. Tidak berkurang sesuatu pun dariku dengan apa yang telah saya lakukan bukan? Selamanya tetap Umar.

        Begitulah sikap rendah hati seorang Umar. Meski beliau seorang khalifah, beliau tidak mau diperlakukan berlebihan oleh orang lain meskipun orang tersebut hanya bermaksud menghormati beliau. Islam telah mengajarkan agar seorang muslim menghormati dan mencintai sesamanya apalagi terhadap para ulama dan orang shaleh, keharusan menghormati itu lebih kuat lagi. Namun, penghormatan dan kecintaan kepada ulama atau orang shaleh bisa menjadi masalah ketika itu berkembang menjadi sikap berlebihan. Jika sikap ini berkembang, maka yang akan terjadi selanjutnya adalah kultus (pemujaan) individu atau pensakralan seseorang karena dianggap hebat. Sering kita mendengar nama tokoh yang dipuja-puja dan meyakini serta membenarkan segala perilakunya, sehingga tidak mengindahkan nilai-nilai ketuhanan.

        Jika terhadap Rasulullah s.a.w saja, Islam melarang sikap berlebihan dalam menyanjung dan memuji maka apalagi jika sanjungan dan pujian yang berlebihan itu ditujukan kepada manusia lain. Akibat sikap berlebihan dalam segala hal itu bukanlah kebaikan, melainkan kehancuran sebagaimana yang disebutkan Rasulullah s.a.w “Hindarilah sikap berlebihan, karena tidaklah orang-orang sebelum kamu binasa melainkan disebabkan oleh sikap berlebihan mereka.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah).  Sumber : 60 kisah orang takwa orang surga, Ahmad. 


Artikel Terkait Lainnya..
Rendah Hati Itu Mulia

RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top