Hidup Untuk Mati, Mati Untuk Hidup | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

Hidup Untuk Mati, Mati Untuk Hidup

          Dear, apabila kita dapat meluangkan waktu sejenak untuk berpikir bahwa manusia adalah makhluk hidup biasa dan bila kita dengar kata hidup maka teringatlah kita akan kata mati. Ya, manusia bisa mati karena bukanlah makhluk kekal. Allah SWT telah menggariskan umur kita dan bila memang sudah waktunya kita pun akan dipanggil. Al-Qur’an pun telah menjelaskan tentang mati dalam salah satu ayatnya yakni Surat As-Sajdah ayat 11.

“Katakanlah : Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu kemudian hanya kepada Tuhanmu lah kamu akan dikembalikan”.

            Lantas, kita dikembalikan pada Allah dan ditempatkan di mana? Pertanyaan itu mungkin terjawab dengan mudah yaitu akhirat. Namun, untuk lebih jelasnya mari simak makna potongan ayat berikut :

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Yaitu hidup dalam alam lain yang bukan alam kita, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah dan hanya Allah sajal ah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu (QS. Al-Imran1 69 : 248).

           Jelas sekali dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa ada alam lain yang telah menanti kita. Alam yang akan memberikan kita kenikmatan-kenikmatan (Surga) ataukah nanti akan memberikan kita siksaan – siksaan atas apa yang telah kita lakukan selama hidup ini (Neraka). Bahkan ada kisah seorang kalangan tabi’in yang sedih mengingat kematian. Dialah Sa’id bin Jubairpewaris ilmu Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu danAbdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Salah seorangyang paling alim di kalangan tabi’in. Beliau ditemani Abdurrahman bin al-Asy’ats ketika melawan pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Pada saat Ibnul Asy’ats terkalahkan dalam perang Dairul Jamajim, Sa’id tertangkap di Makkah. Lalu ia dibawa menghadap kepada Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Setelah terjadi perbincangan cukup lama Hajjaj memainkan kecapi dan bemain seruling. Said menangis. Apa gerangan yang membuatnya menangis? Ternyata tiupan itu mengingatkannya akan hari agung (hari sangkakala ditiup) dan tali kecapi yangberasal dari kulit kambing di mana kambing itu akan dibangkitkan saat hari kiamat nanti.

         Sungguh orang yang beriman. Dia menangis mengingat kembalinya pada Tuhannya hanya dengan mendengar tiupan seruling dan permainan kecapi. Akankah kita lebih celaka dari Said bila tidak pernah sedih memikirkan kematian?? Wallahu alam. Hendaknya kita bergegas memantaskan diri selama hidup ini sebelum kematian menjemput dan nantinya kita dihidupkan kembali untuk diberi kenikmatan atau kesengsaraan. 




RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top