Rendang, dari Minang hingga Mancanegara | DiaryHijaber.com

Writer : Ulfa Arieza Editor : BL

Rendang, dari Minang hingga Mancanegara

Hikayat rendang sudah ada sejak abad ke-19 ketika rakyat Minang mulai bepergian menuju Selat Malaka. Perjalanan mereka membutuhkan waktu hingga satu bulan lamanya. Kala itu, belum ada warung – warung di sepanjang jalan seperti sekarang. Para perantau kemudian membawa bekal makanan yang tahan lama bersama mereka, dan makanan tersebut adalah rendang.

exciteindonesia.wordpress.com

Memasuki abad ke-21, kuliner warisan nenek moyang ini masih bertahan. Bahkan, dalam survei The World’ s 50 Delicious Food versi CNN Internasional pada 2011 lalu, rendang menempati posisi pertama makanan terlezat di dunia. Cita rasanya kental akan rempah – rempah khas Indonesia. Bahan utama rendang adalah daging sapi, santan, dan aneka bumbu rempah yang dihaluskan, seperti cabai, lengkuas, jahe, kunyit, bawang, dan bumbu-bumbu lainnya. Ada dua jenis rendang, rendang basah dan rendang kering. Untuk mendapatkan rendang kering, proses memasaknya menghabiskan waktu hingga delapan jam. Lamanya proses memasak tersebut, menjadikan bumbu rendang meresap sempurna dan melahirkan cita rasa yang khas.

Di daerah asalanya, Minangkabau, Sumatera Barat, rendang menjadi menu utama dalam perayaan hari – hari besar, seperti Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, menjelang Ramadhan, dan pada pesta adat. Masyarakat Minang mempunyai tradisi marandang atau membuat rendang sebagai wujud syukur akan datangnya hari – hari  besar tersebut. Setiap rumah beramai – ramai menyajikan olahan rendang terlezat.

Dibalik bentuknya penyajian yang sederhana, rendang memiliki filosofi tersendiri. Daging rendang melambangkan niniak mamak atau para pemimpin suku adat yang mengayomi segenap masyarakat Minang. Kelapa melambangkan cadiak pandai atau kaum intelektual yang mempersatukan masyarakat. Sedangkan lado atau sambal adalah lambang para alim ulama yang tegas dan gigih dalam menyebarkan ajaran agama. Terakhir adalah bumbu rendang yang melambangkan peran individu untuk kemajuan hidup bermasyarakat sehingga menjadi unsur terpenting dalam masyarakat Minang.

Kelezatan rendang kini tak hanya dinikmati oleh masyarakat Minang saja. Rendang dapat ditemukan di seluruh pelosok Indonesia. Bahkan, warung makan Padang yang menjual rendang sudah berdiri di Negeri Paman Sam. Hijaber, sebagai warga Indonesia kita patut berbangga mempunyai warisan kekayaan kuliner yang mendunia. Sebagai bukti bahwa kuliner Indonesia mampu bertahan di tengah hadirnya beragam kuliner asing.



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top