Kelas Menangah Makin Religius | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

Kelas Menangah Makin Religius

Lembaga riset yang khusus mengkaji konsumen kelas menengah Indonesia, Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS), menyebutkan, konsumen kelas menengah Muslim semakin makmur, justru semakin religius.

Peneliti dari CMCS Yuswohady mengatakan, pihaknya mengadakan riset ini selama setahun dengan 1.000 responden kelas menengah Muslim yang berasal dari enam kota, di antaranya yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, hingga Bandung. Responden yang diteliti kali ini yang mengeluarkan uang untuk belanja dengan rentang nominal Rp 4 juta sampai Rp 14 juta per keluarga tiap bulan.

Hasilnya, potensi konsumen Muslim Indonesia sangat menantang. Tidak hanyapotensinya yang luar biasa besar, yaitu jumlah konsumen Muslim mencapai 87persen dari seluruh penduduk Indonesia, tetapi dinamika perubahannya sejak beberapa tahun terakhir mencengangkan. Ini terlihat sejak adanya Bank Muamalat pada 1991, bank syariah di Indonesia tumbuh luar biasa mencapai hampir 40 persen
setiap tahunnya.

Pertumbuhan itu jauh melebihi pertumbuhan bank konvensional yang tidak sampai20 %.

"Memang, penetrasi asetnya belum mencapai lima persen dari total pasar perbankan Indonesia. Namun, geliatnya menjanjikan," ujarnya saat pemaparan seminar mengenai menyasar kelas menengah Muslim di Jakarta, akhir pekan lalu.

Saat ini, ia menyebutkan, ada 11 Bank Umum Syariah (BUS), 23 Unit Uaha Syariah (UUS), dan 160 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Selain itu, ia melanjutkan, konsumen kelas menengah Muslim semakin kaya
, ternyata semakin giat bersedekah dan membayar zakat.

"Salah satu Direktur Dompet Dhuafa (DD) Thoriq Helmi mengatakan kepada saya bahwa zakat yang ditampung di DD sebagian besar berasal dari kelas menengah Muslim dan potensinya terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Menariknya, 90 persen lebih mereka membayar zakat melalui transaksi elektronik, seperti electronic channel, Anjungan Tunai Mandiri (ATM), debit, dan lain-lain," ucap Yuswohady.

Tak hanya itu, fenomena dinamika produk Muslim, yaitu kosmetik Wardah, muncul sebagai pemain yang mencapai puncak sukses seiring dengan revolusi Muslimah pemakai hijab (hijaber). Jika pada 2008 Wardah hanya memperoleh omzet Rp 4 miliar per bulan, kini Wardah tengah mengejar omzet Rp 3 triliun. Kesuksesan Wardah sampai membuat kompetitornya, yaitu kosmetik konvensional kalang kabut.

Artinya, konsumen kelas menengah Muslim di Indonesia memang berubah sangat cepat dan fundamental. Semakin meningkatnya kemakmuran mereka sebagai akibat keberhasilan pembangunan, justru mendorong kelas menengah Muslim semakin religius. "Semakin makmur, semakin pintar, semakin religius. Kalimat itu sangat pas menggambarkan pergeseran itu," tambahnya.

Ini bisa dilihat dari fenomena jika dulu masyarakat tidak begitu peduli makananhalal, kini mereka menjadi sangat memperhatikannya. Bahkan, pihaknya mengaku,telah melakukan survei dan hasilnya 95 persen konsumen kosmetik mengecek labelhalal saat membeli produk.

Kemudian, kaum Muslim juga tidak begitu memperhatikan praktik riba dalam perbankan kini mulai berpikir untuk menghindari praktik riba. Buktinya, bank syariah tumbuh hingga mencapai 40 persen per tahunnya.

"Begitu pula, kaum wanita Muslim kini semakin memperhatikan untuk menutup auratnya, terbukti dengan munculnya fenomena revolusi hijab," tutur
Yuswohady.


Beberapa fakta religiusitas konsumen kelas menengah Muslim di Indonesia:

* 90 persen lebih mereka membayar zakat melalui transaksi elektronik.
* Tahun 2008 omzet Wardah (kosmetika halal) hanya Rp 4 miliar per bulan, kini Wardah tengah mengejar omzet Rp 3 triliun.
* 95 persen konsumen kosmetik mengecek label halal saat membeli produk.
* Bank syariah tumbuh 40 persen per tahun (dua kali lipat pertumbuhan bank konvensional).

 

Tidak hanya konsumsi produk halal, masyarakat kelas menengah juga sudah mulai ‘aware’ mengenai Transaksi keuangan secara syariah dengan tujuan Agar hidup lebih baik sesuai dengan syariah.

Transaksi yang tidak mengandung unsur riba (interest), judi (speculative) dan gharar (ketidakpastian/uncertainty).

Hijabers, Jadilah muslim secara kafah.

.....Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. Al Baqarah :85)

Image title



RELATED ARTICLE

comments powered by Disqus
Top